SARIBERITA.ID – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meluncurkan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas total mencapai 100 Gigawatt peak (GWp). Upacara peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek berskala masif ini dilangsungkan di Bali pada tanggal 25 Agustus.
Pembangunan tahap pertama dari mega-proyek tenaga surya ini akan mencakup sejumlah wilayah strategis di Indonesia, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Bangka Belitung, hingga Kepulauan Riau. Proyek ini diinisiasi sebagai bagian dari program prioritas nasional pemerintah untuk mencapai kemandirian energi dan air, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan negara pada energi fosil.
Dalam pidatonya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengungkapkan bahwa saat ini total kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional berada di angka 88 Gigawatt (GW). Kapasitas tersebut masih didominasi oleh sumber energi konvensional.
"Dari batu bara, dari minyak, dari gas, dari geothermal semua 88 GW. Kita akan membangun 100 GW," tegas Presiden Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa proyek ini merupakan komitmen serius dari pemerintah yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2029 mendatang. Pembangunan 100 GWp ini akan dikebut pengerjaannya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
"Dan kita tidak main-main, target kita 100 GW dalam 3 tahun. Kita buktikan lagi ya, nanti 3 tahun lagi kita kumpul lagi. Kita sekarang selalu bicara dengan bukti. Intinya, (dengan) 100 GW kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri," ujar Prabowo dengan penuh optimisme.
Berdasarkan data pemerintah, Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi surya yang luar biasa besar, yakni mencapai 3.290 GWp. Namun, hingga April 2026, realisasi kapasitas PLTS yang terpasang di seluruh Indonesia baru menyentuh angka 1,5 GWp.
Melalui pembangunan proyek senilai ratusan gigawatt ini, pemerintah berharap dapat memanfaatkan potensi lokal secara maksimal, mendongkrak perekonomian nasional dengan mesin pertumbuhan baru, dan diproyeksikan mampu menghemat biaya operasional maupun subsidi energi hingga triliunan rupiah setiap tahunnya.[SB.104/Pebri]




0 Komentar