SARIBERITA.ID Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Indonesia kini kian meresahkan. Kebakaran yang telah menghanguskan ratusan hektare lahan ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menyebabkan penurunan kualitas udara secara signifikan di berbagai daerah.
Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sejumlah personel gabungan dari berbagai unsur terus berupaya keras memadamkan api yang membakar hutan dan lahan. Kebakaran di wilayah ini dilaporkan semakin masif dan api berkobar tidak terkendali. Proses pemadaman di lapangan menemui kendala berat akibat hembusan angin kencang. Untuk menanggulangi agar api tidak semakin meluas, sebanyak 50 unit mobil pemadam kebakaran telah disebar di 13 kecamatan. Berdasarkan dugaan sementara, kebakaran ini dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Sementara itu, kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Kebakaran lahan terus meluas seiring dengan meningkatnya jumlah titik api di wilayah tersebut. Upaya pemadaman tidak hanya dilakukan melalui jalur darat, tetapi juga mengerahkan satu unit helikopter water bombing (bom air) untuk memadamkan titik-titik api yang sulit dijangkau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat bahwa luasan lahan yang terbakar dari periode Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 540 hektare dari 162 kejadian. Menurut perwakilan BPBD Ogan Ilir, peningkatan jumlah titik api terjadi secara drastis sejak awal bulan Juli. "Agustus ini sudah hampir mencapai 20 titik api. Peningkatan drastis itu dimulai dari awal Juli sampai Agustus ini, dan mungkin akan sampai puncaknya pada akhir September nanti," ungkap perwakilan BPBD tersebut.
Beralih ke Provinsi Riau, petugas gabungan di Kabupaten Indragiri Hulu terus melakukan proses pendinginan di sejumlah titik bekas kebakaran. Langkah ini diambil guna memastikan agar api tidak kembali menyala di lahan gambut. Meskipun kobaran api sudah tidak lagi terlihat, asap pekat masih terus mengepul dari lahan gambut yang terbakar tersebut.
Akibat dari kebakaran hutan ini, sejumlah kawasan di Kota Pekanbaru diselimuti oleh kabut asap sejak beberapa hari terakhir. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara di Pekanbaru mulai menunjukkan level yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan keterangan dari pihak pemantau kualitas udara setempat, alat pendeteksi PM 2.5 menunjukkan indikator warna kuning yang berarti kondisi udara "Tidak Sehat". "Beberapa hari ini memang ada asap yang masuk ke wilayah Pekanbaru, yang terutama berasal dari Indragiri Hulu, kemudian dari Pelalawan juga ada," jelas petugas tersebut.
Lebih lanjut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyebutkan bahwa total jumlah titik api di Provinsi Riau saat ini mencapai 80 titik yang tersebar di 8 kabupaten/kota. Kendati dikepung kabut asap, aktivitas warga setempat dilaporkan masih berjalan dengan normal.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar