SARIBERITA.ID – Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Muhammad Jumhur Hidayat, menyayangkan sikap sejumlah negara maju dengan kekuatan ekonomi besar yang memilih mundur dari tanggung jawab kolektif dalam mengatasi masalah polusi dan perubahan iklim. Kritik tegas ini disampaikan secara langsung oleh Jumhur dalam pertemuan Menteri Lingkungan Negara-negara BRICS yang diselenggarakan di New Delhi, India.
Dalam forum internasional yang dihadiri oleh 10 dari 11 negara anggota BRICS tersebut, Menteri Lingkungan Hidup RI menyoroti sebuah ironi di mana negara-negara dengan kekuatan ekonomi raksasa justru masih menjadi penyumbang emisi global yang sangat signifikan.
Jumhur menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia secara konsisten menempatkan adaptasi perubahan iklim sebagai pilar utama dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, upaya perlindungan terhadap keanekaragaman hayati, baik di darat maupun di laut, merupakan fondasi yang sangat penting bagi terciptanya ketahanan iklim sekaligus keberlanjutan ekonomi.
Memanfaatkan forum tersebut, delegasi Indonesia juga turut memperkenalkan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional masyarakat Nusantara kepada dunia. Beberapa praktik tradisional yang dipaparkan sebagai solusi pelestarian lingkungan antara lain adalah sistem tata air irigasi Subak di Bali, kearifan lokal Sasi Lompa di Maluku, serta aturan adat Awik-awik. Praktik-praktik warisan leluhur ini dinilai dapat menjadi solusi nyata berbasis masyarakat (komunitas) dalam menjaga sumber daya alam dan menghadapi dampak perubahan iklim global.
Terkait upaya bersama, Muhammad Jumhur Hidayat menyampaikan apresiasinya terhadap visi negara-negara BRICS. Ia menyatakan bahwa negara-negara anggota BRICS memiliki komitmen yang kuat dalam memproteksi lingkungan, termasuk upaya nyata menurunkan emisi gas rumah kaca, serta menangani pengelolaan limbah (waste management) dan plastik. Upaya yang dibahas di forum tersebut dinilai sangat searah dengan langkah-langkah yang tengah dilakukan oleh Indonesia.
"Di saat kita sedang berjuang untuk itu, memang kita agak menyayangkan ternyata ada negara-negara besar yang seolah menarik diri dari urusan lingkungan hidup. Padahal negara-negara itu juga penyumbang polutan yang besar," ungkap Jumhur.[SB.104/Pebri]




0 Komentar