SARIBERITA.ID| Hobi merawat tanaman bonsai kini telah menjelma menjadi sumber penghasilan yang sangat menjanjikan bagi warga Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tidak hanya sekadar memanjakan mata dengan nilai seninya yang tinggi, industri budidaya tanaman kerdil ini terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif dan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kota yang selama ini dijuluki sebagai Kota Ukir tersebut.
Berdasarkan data terkini, tercatat ada sekitar 4.000 petani bonsai yang tersebar di berbagai kecamatan di wilayah Jepara. Hasil budidaya tanaman hias ini telah sukses menjangkau pasar luar daerah, dengan lebih dari 80 persen hasil panennya diserap oleh pasar di Pulau Bali.
Penjualan dan pemasaran produk bonsai Jepara ini dilakukan melalui beragam cara yang adaptif. Para petani memanfaatkan penjualan secara daring, memaksimalkan relasi jaringan komunitas pencinta bonsai, hingga aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran berskala nasional.
Salah seorang Petani Bonsai di Jepara (nama tidak disebutkan spesifik dalam tayangan) memaparkan bahwa jenis bonsai yang dibudidayakan disesuaikan dengan kondisi geografis lingkungan sekitar.
"Kalau di sini karena berada di daerah pinggir laut, makanya jenis yang banyak dibudidayakan adalah tanaman yang habitatnya di pesisir, yaitu terutama Cemara Udang dan Santigi. Dari segi ekonomi ini sangat membantu, khususnya untuk di Jepara ini sangat berdampak untuk membantu sektor UMKM," ungkap Petani Bonsai tersebut.
Perkembangan budidaya bonsai di Jepara rupanya menciptakan multiplier effect atau efek ganda secara ekonomi. Tak hanya petaninya yang meraup untung, sektor usaha lain seperti pembibitan, pengrajin pot, pembuat meja dan display ukir, hingga produsen aksesoris bonsai turut merasakan cipratan rezeki dari tren ini.
Nilai jual karya bonsai asal Jepara pun sangat bervariasi. Untuk bonsai di level pemula, harganya dibanderol mulai dari kisaran ratusan ribu rupiah. Namun, untuk bonsai berkualitas tinggi dengan usia perawatan yang telah mencapai puluhan tahun, harga jualnya bisa meroket mencapai ratusan juta rupiah, bahkan ada yang menyentuh angka mendekati Rp1 miliar.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Paguyuban Bonsai Jepara menyebutkan bahwa karya seni bonsai dari daerahnya memiliki ciri khas tersendiri karena lahir dari tangan masyarakat yang sejak lama dikenal memiliki jiwa dan sentuhan seni yang kuat.
"Untuk sementara ini hasil budidaya kita pemasarannya terus berkembang. Saat ini kita suplai penuh itu ke daerah Bali, kemudian juga ke teman-teman di Bekasi. Untuk ke luar Jawa ada yang sampai ke Kalimantan, tapi tetap suplai terbesar kita itu di Bali, Pulau Dewata," jelas Ketua Paguyuban Bonsai Jepara.
Melihat besarnya potensi industri ini, jajaran pemerintah daerah mulai memberikan dukungan penuh. Rencananya, pemerintah akan memfasilitasi gelaran pameran bonsai berskala nasional yang akan diselenggarakan di Alun-Alun Jepara pada bulan Desember mendatang. Dukungan ini juga diiringi dengan upaya mendorong hadirnya galeri-galeri bonsai sebagai destinasi wisata alternatif bagi para pecinta tanaman hias.
Dengan dukungan penuh dari ribuan petani, kekuatan penetrasi pasar, serta sokongan pemerintah, industri bonsai ini diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi kreatif sekaligus menjadi ikon baru kebanggaan Kabupaten Jepara, bersanding dengan industri mebel dan ukir.[SB.101/Ran]





0 Komentar