SARIBERITA.ID, Jakarta — Kekayaan seni dan budaya Nusantara kembali mendapatkan panggung kehormatannya melalui gelaran agung Festival Bedhayan 2026. Acara kebudayaan berskala nasional ini sukses menghidupkan kembali pesona serta keanggunan tari tradisi klasik yang sarat akan nilai filosofis dan keluhuran budi pekerti bangsa. Kemegahan festival ini turut menjadi sorotan utama dalam program Metro Siang, membawa keindahan budaya keraton ke ruang publik yang lebih luas.
Bertempat di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, festival ini berhasil menyedot perhatian ribuan penikmat seni lintas generasi. Tari Bedhaya, yang pada masa lampau merupakan tarian sakral dan secara eksklusif hanya dipentaskan di lingkungan dalam keraton, kini disajikan dengan sangat apik oleh berbagai sanggar tari perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia. Festival Bedhayan 2026 tidak hanya mementaskan pakem-pakem asli tarian klasik tersebut, tetapi juga memberikan ruang edukasi agar filosofinya dapat dipahami oleh masyarakat modern.
Hilmar Farid, selaku Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara ini dan tingginya antusiasme para seniman muda dalam menjaga warisan budaya takbenda Indonesia.
Selain pertunjukan tari utama, Festival Bedhayan 2026 juga menghadirkan serangkaian lokakarya (workshop) pengenalan gerak dasar Bedhaya, pameran busana adat keraton, hingga simposium budaya yang melibatkan para maestro tari, akademisi, dan budayawan.
Penyelenggara berharap, melalui kesinambungan acara seperti ini, tarian klasik tidak lagi dianggap sebagai kesenian yang kaku atau tertutup, melainkan kekayaan nasional yang hidup, bernapas, dan relevan dengan semangat zaman, serta terus menjadi kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia di mata dunia.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar