Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Hancur Lebur Diguncang Gempa 7,7 Magnitudo, Warga Manggarai Bertahan di Pengungsian dan Menanti Bantuan Renovasi Rumah

SARIBERITA.ID - Pascagempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu, warga Kampung Mando, Kelurahan Compang Carep, Kabupaten Manggarai terpaksa bertahan hidup di posko pengungsian. Kondisi rumah mereka luluh lantak dan tidak lagi layak huni akibat kerasnya guncangan gempa.

Randi Alfaras, Jurnalis Metro TV yang melaporkan langsung dari lokasi, menyebutkan bahwa Kampung Mando merupakan salah satu wilayah dengan dampak terparah. Sebagian besar bangunan rumah roboh dan hanya menyisakan puing-puing karena struktur bangunan tidak kuat menahan guncangan dahsyat.

Akibatnya, warga inisiatif mendirikan posko pengungsian secara mandiri. Di salah satu posko tersebut, terdapat sedikitnya 8 Kepala Keluarga (KK) dengan total sekitar 30 warga, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak, yang hidup dengan kondisi serba terbatas.

Renol, salah seorang warga sekaligus korban yang rumahnya hancur, menceritakan detik-detik mencekam saat gempa meluluhlantakkan tempat tinggalnya di pagi buta.

"Waktu pertama kali kronologi terjadinya keruntuhan, saya dengan bapak sementara di dalam rumah, tidur. Saya bangun jam 5, gempanya memang agak kecil. Waktu gempa yang sangat dahsyat itu, saya kasih bangun bapak. Bapak pegang saya punya baju, saya langsung buka pintu. Pas melangkah satu langkah di depan pintu, langsung rumahnya roboh," ungkap Renol.

Kondisi tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga, terutama bagi Margareta, ibunda Renol yang juga pemilik rumah. Ia mengaku syok dan jatuh pingsan saat mengetahui tempat tinggal yang dibangun keluarganya rata dengan tanah.

"Waktu itu saya sempat syok, pingsan dan menangis. Saya trauma. Keesokan harinya di hari Minggu baru saya kunjungi rumah. Saya kepikiran karena suami saya ini kerjanya kuli bawa travel orang. Kami bukan bergaji bulanan, kami hanya dapat dari penumpang. Kalau ada sisa setoran dari bos, baru kami bisa makan minum," tutur Margareta.

Terkait distribusi bantuan darurat, Margareta menyebutkan bahwa kebutuhan logistik dasar saat ini sudah disalurkan. Bantuan yang diterima berupa beras, mi instan, telur, dan minyak goreng yang berasal dari pemerintah, instansi swasta, dan pihak keluarga.

Untuk kebutuhan air bersih, Margareta menyiasatinya dengan menyambung pipa dari tetangga, sementara aliran listrik masih bisa menggunakan instalasi milik sendiri. Meski kebutuhan pangan sementara terpenuhi, bantuan berupa dana tunai belum mereka terima sama sekali.

Melalui kesempatan tersebut, Margareta menitipkan pesan dan harapan besar kepada Presiden dan jajaran Menteri. Ia memohon agar pemerintah tidak berhenti pada bantuan logistik saja, melainkan turun tangan untuk merehabilitasi tempat tinggal mereka.

"Saya mau menyampaikan, saya terutama minta pertolongan makan dan minum. Terus yang kedua, untuk renovasi rumah, karena saya sangat membutuhkan renovasi rumah," harap Margareta.

Kini, para penyintas bencana di Kabupaten Manggarai sangat menantikan tindak lanjut rehabilitasi dari pemerintah agar mereka bisa segera meninggalkan posko pengungsian dan kembali menata hidup secara normal.[SB.104/Pebri]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital