SARIBERITA.ID - Bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu masih menyisakan duka dan trauma mendalam bagi warga. Hingga kini, masyarakat setempat belum dapat hidup dengan tenang akibat rentetan gempa susulan yang masih terus terjadi.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Rabu, 26 Agustus, telah tercatat sebanyak 7.492 kali gempa susulan. Dari jumlah tersebut, 33 di antaranya memiliki magnitudo di atas 5. Hal ini membuat warga memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian di tanah lapang karena masih takut untuk kembali ke rumah mereka yang telah rusak atau porak-poranda.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Rabu, 25 Agustus pukul 16.00 WIB, jumlah pengungsi telah mencapai 179.037 orang, sedangkan korban tewas yang berhasil ditemukan mencapai 105 orang. Para pengungsi ini tersebar di tujuh kabupaten, dengan konsentrasi terbanyak berada di Manggarai, Nagekeo, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Meski di Kabupaten Sikka sebagian warga mulai kembali ke rumah, penambahan pengungsi di titik lain masih dinamis.
Tantangan di lapangan pun tidak mudah. Putusnya sejumlah akses jalan akibat gempa membuat beberapa wilayah terisolasi, sehingga distribusi pasokan bahan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar menjadi tersendat. Selain itu, para pengungsi juga harus berhadapan dengan cuaca panas terik yang melanda dalam beberapa bulan terakhir.
Di tengah kondisi yang melelahkan secara lahir dan batin tersebut, Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia hadir langsung menyambangi para pengungsi di NTT. Kehadiran Presiden Prabowo beserta jajarannya menjadi penguat moral bagi warga terdampak.
Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo memastikan bahwa penanganan darurat dan penyaluran bantuan dari pusat dilakukan dengan cepat, terarah, dan merata ke seluruh daerah terdampak. Prioritas utama saat ini bukan hanya logistik dasar, tetapi juga hak anak-anak untuk tetap bisa belajar dan bermain.
"Sudah kita siapkan perbaikan-perbaikan, langkah-langkah sementara supaya sekolah bisa segera buka. Yang paling penting dari pusat adalah mengerahkan pelayanan dan bantuan," tegas Presiden terkait upaya pemulihan sarana pendidikan dan layanan masyarakat.
Kehadiran Presiden secara langsung di NTT ini diharapkan tidak sekadar menjadi tanggung jawab administratif, melainkan bentuk nyata bahwa negara hadir di tengah penderitaan warganya. Kecepatan koordinasi lintas sektor amat krusial, tidak hanya saat tanggap darurat, tetapi juga pada fase rehabilitasi nantinya.
Langkah turun ke lapangan ini juga dipandang sebagai wujud kerja nyata, berbanding terbalik dengan praktik "wisata bencana" yang kerap dilakukan sejumlah pejabat demi popularitas semata—sebuah perilaku yang sebelumnya pernah dikritik keras oleh Presiden Prabowo pada rapat kabinet penanganan longsor Sumatera pada Desember 2025 lalu. Kehadiran pemimpin di tengah krisis ini diharapkan menjadi motor penggerak kebangkitan masyarakat NTT pascabencana.[SB.104/Pebri]




0 Komentar