SARIBERITA.ID– Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), turut dirasakan oleh warga di sejumlah pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Guncangan kuat tersebut sempat memicu kepanikan warga, terutama di Pulau Bonerate dan Pulau Jampea, yang berhamburan keluar rumah dan mengevakuasi diri ke dataran tinggi karena khawatir akan ancaman tsunami.
Kepala Kantor Basarnas Maumere, Faturrahman, sebelumnya dalam laporan terpisah mengonfirmasi dampak parah di wilayah NTT, dengan rincian sementara satu korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan, dua korban luka-luka di Kabupaten Sikka, serta terputusnya sejumlah akses vital dari Maumere menuju Ende akibat gangguan listrik dan jaringan internet.
Namun, kondisi di Kepulauan Selayar dilaporkan relatif aman dan kondusif. Bupati Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali, memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan terkait kerusakan fatal maupun korban jiwa di wilayahnya.
"Sampai sekarang ini belum kami dapatkan laporan terkait kerusakan. Rata-rata laporan dari Camat, Kapolsek, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat menyatakan tidak terjadi kerusakan fasilitas umum maupun korban jiwa," jelas Basli Ali.
Bupati membenarkan bahwa kepanikan sempat melanda warga, yang sebagian besar dipicu oleh trauma akibat gempa dahsyat yang melanda NTT dan Selayar pada tahun 2022 silam. "Pada gempa 2022, banyak rumah, fasilitas umum, sekolah, masjid, hingga tanggul pantai yang rusak parah. Jadi masyarakat secara otomatis panik dan menyelamatkan diri ke atas bukit. Selain itu, gelombang air laut juga terpantau sempat naik hingga empat kali," ungkapnya.
Bahkan, air laut dilaporkan sempat masuk ke area pemukiman warga pesisir di Desa Mangatti, Pulau Pasimasunggu, dan wilayah Labuang Pamajang, meski dalam skala kecil yang digambarkan sebagai banjir rob biasa tanpa arus deras.
Terkait peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang sebelumnya menempatkan wilayah Kepulauan Selayar dalam status "Siaga", Bupati menegaskan bahwa peringatan tersebut telah dicabut dan informasinya telah disosialisasikan kepada warga. Meski sebagian kecil warga masih memilih bertahan di perbukitan karena trauma, secara umum masyarakat telah berangsur kembali ke rumah dan beraktivitas secara normal.
Bupati Selayar juga membantah adanya isu gangguan komunikasi di wilayahnya. "Saya terus berkomunikasi dengan masyarakat, Camat, dan Kapolsek. Alhamdulillah jaringan masih menyambung terus, bahkan kami bisa melakukan panggilan video (video call). Jaringan komunikasi terbilang aman," tegasnya.
Menyikapi potensi gempa susulan, Bupati Basli Ali menyebut bahwa getaran susulan masih sempat dirasakan di Selayar pada pukul 09.00 waktu setempat, namun dengan intensitas yang jauh lebih kecil.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar telah menyiagakan langkah antisipasi. "Kami sudah menyiapkan skenario dan anggaran, terutama ketersediaan logistik darurat yang siap dikirim ke kecamatan-kecamatan kepulauan. Kami tetap mengimbau masyarakat untuk waspada, menggunakan jalur evakuasi yang sudah ada jika diperlukan, dan tetap mengacu pada informasi resmi dari BMKG," pungkasnya. [PKC-01]**





0 Komentar