Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Antisipasi Dampak El Nino, Kementan Genjot Transformasi Pertanian dan Kolaborasi dengan TNI


 SARIBERIITA.ID| 
Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia terus berupaya memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan fenomena iklim El Nino yang sedang berlangsung. Transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju modern menjadi kunci utama pemerintah dalam mengamankan pasokan pangan dalam negeri, dibarengi dengan integritas moral dari sumber daya manusia pengelolanya.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, dalam program Top Economy. Ia menegaskan bahwa sistem pertanian modern yang sedang dibangun sangat bergantung pada mentalitas dan moral para pelaksananya.

"Sistemnya kita bangun sistem pertanian, transformasi pertanian. Kalau sudah krisis moral, sebaik apa pun sistem itu, dirusak oleh orang. Makanya orang bodoh tapi jujur masih agak bagus. Orang pintar tapi nakal, tidak bermoral, itu jauh lebih berbahaya karena pompa pun bisa dimakan," ujar Mentan Amran Sulaiman.

Menjawab kekhawatiran terkait penyusutan lahan sawah di Indonesia, Mentan Amran menguraikan strategi kementeriannya melalui pendekatan intensifikasi. Menurutnya, meskipun luas lahan fisik tidak bertambah, namun indeks pertanaman (intensitas tanam) dapat ditingkatkan secara signifikan.

"Intensifikasi artinya lahan yang ada dikelola dengan baik, dioptimalkan seluruh sumber dayanya. Pertama irigasi, kedua benih unggul, ketiga pupuk. Harga pupuk karena kita melakukan revitalisasi itu turun 20%, ini tidak pernah terjadi selama republik ini merdeka," terangnya.

Kementan juga telah menemukan metode dengan benih unggul yang mampu menghasilkan produksi 10 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,5 hingga 7 ton. Melalui pompanisasi dan perbaikan irigasi, lahan yang semula hanya bisa ditanami satu atau dua kali dalam setahun, kini ditargetkan bisa ditanami hingga tiga kali.

Amran menjelaskan bahwa potensi lahan Indonesia mencapai 7,3 juta hektare. "Kalau ini dikali tiga (kali tanam), berarti ada 21 juta hektare (luas tanam). Yang ditanam sekarang baru 11 juta, jadi masih ada ruang sekitar 10 juta lagi. Inilah perintah Bapak Presiden, lakukan intensifikasi," jelas Amran.

Selain intensifikasi, Kementan juga melakukan revitalisasi terhadap 800.000 hektare lahan rawa yang tadinya hanya mampu berproduksi 3 ton dengan satu kali masa tanam. Kini lahan rawa tersebut didorong dengan teknologi modern agar bisa panen dua hingga tiga kali setahun. Terkait kekhawatiran penurunan kesuburan tanah akibat intensitas tanam yang tinggi, Mentan memastikan bahwa penggunaan pupuk organik dan anorganik secara seimbang akan menjaga keseimbangan unsur hara tanah.

Dalam upaya percepatan ini, Kementan mengambil langkah yang cukup unik dan sempat dipertanyakan berbagai pihak, yakni melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya Bintara Pembina Desa (Babinsa), untuk membantu mengolah sawah dan memasang pompa air.

Mentan Amran menjelaskan bahwa langkah taktis ini diambil karena keterbatasan jumlah Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan kondisi krisis El Nino yang mendesak.

"PPL saya 37.000, saya butuh PPL 80.000 (untuk memenuhi) satu desa satu PPL. Terus ini El Nino sudah terjadi. Yang paling siap membantu adalah Babinsa. Bukan tentara bagian tempur, tapi Babinsa yang memang tinggal di desa," jelasnya.

Amran menegaskan bahwa keterlibatan Babinsa ini dilakukan secara sukarela tanpa tambahan bayaran khusus di luar gaji mereka sebagai prajurit. Saat mendapat pertanyaan dari Komisi IV DPR RI dan mahasiswa terkait pelibatan TNI, Amran memberikan tantangan balik.

"Saya beritahu, kalau Bapak mau saya hentikan ini, (saya perlihatkan) foto TNI memikul pompa puluhan ribu itu. Enggak dibayar. Kalau saya hentikan, mau tidak yang bertanya (menggantikan memikul)? Akhirnya komisi empat dan mahasiswa mengatakan 'lanjutkan saja Pak'," ungkap Mentan menceritakan respon publik.

Di akhir wawancara bersama Host Top Economy, Leon Samosir, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan pesan terbuka kepada seluruh pengamat dan pihak yang kerap memberikan kritik. Ia menyatakan bahwa Kementan selalu terbuka terhadap kritik yang konstruktif.

"Sampaikan salam hormat saya dengan segala kerendahan hati kepada seluruh pengamat dan yang mengkritik. Kalau konstruktif, aku terima, tapi jangan fitnah. Negara ini milik bersama. Menteri pertanian kan palingan 3 tahun lagi kalau tidak reshuffle, tapi kita ingin program ini dilanjutkan untuk ketahanan pangan," pungkas Amran Sulaiman.[SB.101/Ran]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital