SARIBERITA.ID Terputusnya akses jalan darat akibat guncangan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat sejumlah desa di wilayah tersebut terisolasi. Merespons kondisi darurat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terpaksa melakukan langkah taktis dengan menyalurkan bantuan (dropping) menggunakan armada helikopter.
Dalam konferensi pers update penanganan bencana yang digelar pada Minggu, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, menyampaikan bahwa jumlah pengungsi terdampak gempa NTT kini mengalami lonjakan yang sangat signifikan, yakni hingga melebihi 161.000 jiwa.
Ia memaparkan bahwa lokasi titik pengungsian dengan jumlah warga terbanyak saat ini berada di wilayah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Manggarai Timur.
Untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar ratusan ribu penyintas gempa tersebut, BNPB mencatat lebih dari 1.200 ton bantuan logistik telah didistribusikan. Penyaluran bantuan secara masif ini dikoordinasikan melalui pos-pos pendukung utama yang berlokasi di Labuan Bajo dan Maumere.
Meski bantuan telah tersedia, tantangan terbesar di lapangan saat ini adalah proses distribusi. Medan yang berat ditambah dengan terputusnya berbagai akses jalan utama maupun jalan desa akibat guncangan gempa bumi sangat menyulitkan distribusi logistik ke sejumlah pelosok.
Untuk menyiasati kendala distribusi jalur darat tersebut, tim gabungan akhirnya mengerahkan helikopter untuk melakukan dropping logistik secara langsung lewat udara ke titik-titik wilayah yang terisolasi. Salah satu area yang menjadi sasaran prioritas penerjunan bantuan logistik udara ini adalah Kecamatan Sambi Rampas yang terletak di Kabupaten Manggarai Timur.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar