SARIBERITA.ID Peristiwa menegangkan terjadi saat delapan orang warga terjebak di tengah kepungan api akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda kawasan Jalan Yos Sudarso Ujung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Jumat malam. Beruntung, berkat aksi cepat tim gabungan, seluruh korban berhasil diselamatkan tanpa adanya korban jiwa.
Jerit histeris dan kepanikan sempat pecah ketika kobaran api menjalar dengan sangat cepat dan mengelilingi permukiman warga. Sebanyak tiga anak-anak dan lima orang dewasa terperangkap lantaran akses satu-satunya jalan keluar terputus oleh amukan si jago merah hanya dalam hitungan menit.
Menghadapi situasi kritis tersebut, Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, dan relawan langsung berpacu dengan waktu. Petugas mempertaruhkan nyawa dan nekat menembus barikade api yang membumbung tinggi demi mencapai posisi warga yang ketakutan.
Proses evakuasi tidak berjalan mudah. Medan yang sulit dijangkau, embusan angin kencang, serta besarnya kobaran api sempat menyulitkan pergerakan petugas. Meski demikian, seluruh warga akhirnya berhasil dievakuasi dengan selamat. Warga yang sempat mengalami sesak napas langsung mendapatkan perawatan medis di Posko Karhutla Kecamatan Jekan Raya.
Salah seorang warga di lokasi kejadian menuturkan betapa cepatnya api merambat dan melahap lahan di sekitarnya.
"Orang yang terjebak di sana banyak, Mas. Awal api itu dari arah Sungai Sebangau ujung sana. Yang pasti kita selamatkan yang bisa diselamatkan saja dulu," ungkap seorang warga setempat yang menjadi saksi mata dan korban terdampak.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Basarnas Palangka Raya, Antonius, mengungkapkan bahwa timnya menghadapi sejumlah kendala berat selama operasi penyelamatan berlangsung. Salah satu ancaman terbesar adalah arah angin yang dapat berubah sewaktu-waktu.
"Untuk evakuasi kita sudah mengevakuasi sekitar lima orang, dan dua orang lagi masih di dalam karena masih menjaga rumah mereka atau ada hewan ternak. Untuk saat ini kami mungkin masih akan standby dulu melihat kondisi dan situasi di lapangan, apakah api masih menyala atau tidak. Nanti kalau misalnya korban bisa dibujuk lagi untuk ke tempat yang aman, kita coba evakuasi ke tempat yang aman," jelas Antonius.
Meski tidak ada korban jiwa, tragedi mencekam di Palangka Raya ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat bahwa ancaman Karhutla dapat mengintai sewaktu-waktu, terutama saat kondisi angin kencang dan lahan yang kering.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar