SARIBERITA.ID Seekor singa laut (Otaria flavescens) berbobot hampir 200 kilogram ditemukan dalam kondisi kritis akibat luka tembak di pantai Santa Teresita, Argentina. Hewan malang tersebut sempat bertahan hidup dalam penderitaan selama beberapa hari sebelum akhirnya mati akibat infeksi berat atau sepsis.
Penemuan ini bermula ketika warga dan relawan mendapati hewan berukuran raksasa tersebut terdampar di bawah struktur dermaga pantai setempat.
Anggota Tim Penyelamat di Lapangan menceritakan detik-detik awal evakuasi hewan nahas tersebut.
"Kami datang untuk melihat hewan yang berada di bawah dermaga Santa Teresita. Ketika kami tiba, turun dari kendaraan, dan mulai mendekat, hewan itu merespons kehadiran kami. Dalam kasus seperti ini, hewan liar akan selalu bereaksi agresif karena merasa terancam dan sedang terluka," jelasnya.
Saat tim melakukan pengamatan jarak dekat, barulah terungkap penyebab kritisnya kondisi mamalia laut tersebut.
"Ketika kami mendekat untuk memeriksa kondisinya, kami menyadari bahwa pada bagian bahu kanannya terdapat luka berlubang. Saat dilihat lebih teliti lagi, sangat jelas bahwa itu adalah lubang bekas tembakan peluru," tambah anggota penyelamat tersebut.
Mengingat ukuran hewan yang sangat masif, tim di lapangan tidak berani mengambil tindakan medis secara sembarangan. Mereka langsung berkoordinasi dengan lembaga konservasi profesional.
"Kami segera menghubungi para dokter hewan dari Yayasan Mundo Marino (Fundación Mundo Marino) untuk merencanakan evakuasi. Dengan ukuran hewan sebesar ini, pilihannya hanya dua: diobati di tempat atau dipindahkan. Memindahkan hewan berbobot 200 kg sangatlah rumit. Namun, akhirnya diputuskan bahwa hewan ini harus segera dievakuasi ke rumah sakit hewan milik Yayasan Mundo Marino agar mendapat penanganan maksimal," ungkap tim relawan.
Setibanya di fasilitas medis pusat penyelamatan di San Clemente del Tuyú, hasil pemeriksaan medis menunjukkan tingkat keparahan yang mengerikan. Proyektil peluru telah menyebabkan tulang sang singa laut patah parah dan memicu kerusakan pada organ paru-parunya.
Caferri, Dokter Hewan dari Yayasan Mundo Marino, memaparkan bahwa tembakan itu tidak langsung mencabut nyawa sang singa laut, melainkan membuatnya mati perlahan.
"Dampak tembakan tidak langsung menyebabkannya mati seketika. Hewan ini harus bertahan hidup selama beberapa hari sementara lukanya terus memburuk dan infeksinya menjalar ke mana-mana. Pada akhirnya, kondisi sepsis (infeksi bakteri mematikan di dalam aliran darah) yang menyebabkan penurunan organ secara progresif hingga ia mati," terang Caferri.
Ironisnya, selain luka tembak yang menjadi penyebab utama kematiannya, tim penyelamat juga menemukan sisa-sisa jaring nelayan atau jaring penangkap ikan di dalam perut hewan tersebut. Fakta ini semakin mempertegas kerasnya ancaman aktivitas manusia terhadap kelangsungan hidup satwa laut.
Merespons insiden tragis ini, Sergio RodrÃguez Heredia, Ahli Biologi dari Yayasan Mundo Marino memberikan kecaman dan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa insiden ini mencerminkan tingginya konflik antara aktivitas manusia (seperti penangkapan ikan) dan satwa liar di pesisir, di mana jalan kekerasan seharusnya tidak pernah menjadi sebuah jawaban.
"Kekerasan tidak bisa menjadi respons atau solusi. Harus segera ditemukan cara hidup berdampingan antara kegiatan produktif pesisir dan fauna liar agar tragedi memilukan seperti ini tidak terjadi lagi," tegas RodrÃguez Heredia.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar