SARIBERITA.ID Sejumlah wilayah di Indonesia kini tengah menghadapi ancaman krisis akibat kekeringan meteorologis yang meluas. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 21 hingga 31 Agustus 2026, status 'Awas' kekeringan telah terdeteksi di sejumlah kabupaten dan kota di penjuru Nusantara.
Wilayah yang terdampak peringatan kekeringan ini tersebar mulai dari Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sejumlah wilayah di Kalimantan dan Maluku.
Di Pulau Jawa, sebaran dampak kekeringan melanda Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Secara khusus, Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang memerlukan perhatian ekstra karena seluruh wilayahnya diimbau dalam kondisi 'Siaga' untuk menghadapi krisis kekeringan hingga beberapa waktu ke depan. Selain itu, wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) juga masuk dalam zona peringatan serupa.
Ancaman kekeringan ini memicu dampak domino yang sangat luas. Tidak hanya mengganggu ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan sanitasi warga, sektor pertanian juga menjadi korban utama. Kekeringan mengancam hasil panen dan menurunkan produktivitas para petani secara drastis. Lebih jauh, kondisi lahan yang mengering juga meningkatkan potensi terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Menghadapi ancaman multi-sektor ini, terdapat sejumlah langkah mitigasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk menjaga ketersediaan air.
Langkah struktural yang bisa didorong adalah pembangunan embung untuk menampung air saat musim hujan, serta menggalakkan penghijauan dan reboisasi guna menjaga daya serap tanah. Di tingkat masyarakat, penghematan penggunaan air bersih harus mulai dilakukan secara disiplin, termasuk dengan memanfaatkan pompa air secara bijak di wilayah yang paling membutuhkan.
Berdasarkan prakiraan BMKG, periode Agustus ini merupakan puncak musim kemarau tahun 2026 yang mencakup sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Memasuki bulan September, luas wilayah yang berada pada puncak kemarau diperkirakan mulai menyusut menjadi 25,41 persen.
Sementara itu, intensitas curah hujan diprediksi akan mulai muncul dan meningkat secara bertahap pada akhir tahun, tepatnya mulai periode Oktober hingga November 2026. Oleh karena itu, masyarakat bersama pemerintah diimbau untuk terus bersiap menghadapi dampak lanjutan kekeringan dan menjaga cadangan air hingga musim penghujan benar-benar tiba.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar