Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Kemarau Panjang Bawa Dampak Kontras: Sungai Bogowonto Jadi "Mini Grand Canyon", Sungai Barito Menjelma Jadi Gurun


SARIBERITA.ID
Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia memunculkan pemandangan tak biasa dan dampak yang saling bertolak belakang. Di Sungai Bogowonto, Purworejo, Jawa Tengah, kekeringan justru menyingkap formasi batuan yang indah. Namun, di Sungai Barito, Kalimantan Tengah, menyusutnya debit air justru menyulitkan aktivitas warga dan nelayan setempat.

Di Purworejo, aliran Sungai Bogowonto yang menyusut drastis menyingkap lapisan batuan yang selama ini terendam air. Bentuknya yang menyerupai lembah ngarai membuat lokasi ini viral di media sosial dan ramai dijuluki sebagai "Mini Grand Canyon".

Keunikan fenomena alam ini tak ayal menjadi daya tarik wisata baru. Warga berbondong-bondong berdatangan untuk sekadar menjelajahi dasar sungai, berburu spot foto, hingga bermain air di sisa-sisa genangan. Sejumlah pengunjung yang memadati lokasi mengaku tempat tersebut sangat cocok untuk bersantai di sore hari karena menyuguhkan pemandangan yang tidak membosankan dan sangat fotogenik untuk diunggah ke media sosial.

Namun, kondisi yang berbeda dan memprihatinkan terlihat di Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Di sekitar area bawah Jembatan Kalahien, bagian besar dasar Sungai Barito kini terbuka luas akibat permukaan air yang menyusut drastis. Hamparan dataran pasir yang terbentuk bahkan membuat daratan tersebut menyerupai gurun, dan memungkinkan warga berjalan kaki melintasi dasar sungai.

Menyusutnya aliran Sungai Barito ini membawa dampak serius bagi masyarakat yang sehari-harinya mengandalkan sungai sebagai jalur utama. Aktivitas nelayan dalam mencari ikan menjadi sangat terganggu, sementara perahu-perahu warga kesulitan melintasi bagian sungai yang kini mendangkal.

Kondisi ini tidak hanya memukul telak penghasilan para nelayan, tetapi juga mengancam akses mobilitas sejumlah desa di pedalaman Kalimantan yang hanya bisa dijangkau melalui jalur air. Kesulitan akses ini berisiko besar menghambat distribusi kebutuhan pokok, akses ke pasar, hingga layanan dasar bagi warga desa setempat.

Hal ini turut dirasakan langsung oleh warga, salah satunya Five Hartadi, seorang Nelayan setempat. Ia mengeluhkan kondisi kemarau tahun ini yang berdampak langsung pada kehidupannya dan warga desa lain.

"Selama musim kemarau, aktivitas pekerja nelayan agak sedikit terganggu karena berdampak juga pada hasil tangkapan nelayan. Dan juga di DAS Barito tidak semua akses ke desa-desa bisa diakses dengan jalur transportasi darat," ungkap Five Hartadi.

Lebih lanjut, ia menceritakan betapa sulitnya menjangkau desa-desa di sekitar aliran sungai. "Kami kesulitan untuk ke desa-desa karena akses terganggu karena musim kemarau ini. Untuk tahun ini kayaknya ini yang agak parah ya, karena kemaraunya agak cukup lumayan lama. Jadi kami tidak bisa beraktivitas seperti biasanya," keluhnya.

Menyikapi kekeringan yang meluas di berbagai daerah ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa fenomena El Nino telah mencapai intensitas sangat kuat pada bulan Agustus. Kondisi inilah yang turut berkontribusi secara langsung terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital