Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Waspada Gempa Mesti Jadi Budaya | Bedah Editorial MI




 SARIBERITA.ID, Jakarta - Ancaman gempa bumi di Indonesia adalah sebuah keniscayaan mengingat letak geografis nusantara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana tidak boleh lagi sekadar menjadi respons reaktif yang muncul usai tragedi, melainkan harus bertransformasi menjadi budaya yang mengakar kuat di tengah masyarakat.

Pesan fundamental ini menjadi sorotan utama dalam program Bedah Editorial Media Indonesia (MI) yang mengangkat tajuk tajam, "Waspada Gempa Mesti Jadi Budaya". Diskusi tersebut menggarisbawahi perlunya sinergi tanpa henti antara pemerintah, pemangku kebijakan, dan warga sipil dalam membangun ketahanan terhadap bencana yang bisa datang kapan saja tanpa prediksi pasti.

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Indonesia, menegaskan bahwa narasi mitigasi bencana di Tanah Air sering kali hanya mengemuka secara musiman saat gempa besar terjadi, dan perlahan menguap dari ingatan kolektif seiring berjalannya waktu.

"Kita tidak boleh lagi sekadar panik saat ada gempa, lalu lupa setelah situasinya mereda. Mitigasi itu harus menjadi gaya hidup dan budaya yang diturunkan. Artinya, dari mulai perencanaan tata ruang yang ketat, edukasi sejak dini di bangku sekolah, hingga konstruksi infrastruktur dan perumahan, semuanya mutlak harus berlandaskan pada kesadaran penuh bahwa kita hidup di atas tanah yang rawan gempa," ujar Abdul Kohar.

Selain aspek kesadaran masyarakat, implementasi serta pengawasan regulasi pemerintah dalam menerapkan aturan standar bangunan tahan gempa (building code) dinilai sebagai langkah vital. Bangunan yang buruk kualitasnya adalah pembunuh utama saat gempa terjadi, bukan guncangan gempanya itu sendiri.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), turut menggemakan bahwa infrastruktur peringatan dini yang modern sekalipun tidak akan berdampak maksimal jika masyarakat di tingkat tapak gagap dalam mengambil tindakan penyelamatan pertama.

"Budaya waspada gempa berarti masyarakat tahu persis langkah evakuasi mandiri sebelum bantuan evakuasi datang. Pengetahuan soal jalur evakuasi, titik kumpul, dan respons cepat harus dilatih. Pelatihan dan simulasi kebencanaan di tingkat RT, RW, maupun perkantoran harus dilakukan secara periodik dan serius, bukan sekadar formalitas," jelas Dwikorita.

Tajuk editorial ini pada akhirnya menjadi alarm peringatan bagi seluruh elemen bangsa. Investasi waktu, tenaga, dan anggaran untuk edukasi mitigasi serta membangun infrastruktur tahan gempa terbukti jauh lebih murah dibandingkan dengan masifnya kerugian ekonomi, apalagi hilangnya nyawa akibat ketidaksiapan menghadapi bencana. Sudah saatnya Indonesia merawat kewaspadaan gempa sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan sehari-hari.

[SB.102/CAHAYA]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital