SARIBERITA.ID| Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang disertai gelombang tsunami telah meluluhlantakkan wilayah Marapokot, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana besar ini menghancurkan rumah-rumah warga beserta fasilitas umum, dan meninggalkan masyarakat dalam kondisi kritis kekurangan makanan dan tempat tinggal. Rekaman visual pascakejadian menunjukkan kerusakan parah pada berbagai bangunan di pesisir, termasuk sebuah masjid yang sebagian atapnya ambruk dengan puing-puing berserakan menutupi seluruh lantai.
Berdasarkan pemantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 tersebut memicu gelombang tsunami setinggi 1,61 meter. Namun, kesaksian warga di Marapokot di lapangan menyebutkan bahwa gelombang yang menghantam permukiman mereka jauh lebih besar, mencapai ketinggian 2 meter, sesaat setelah air laut sempat surut secara tiba-tiba.
Sejumlah warga menceritakan kengerian saat air bah datang menyapu desa mereka. Sodikin, selaku Penyintas Gempa, mengungkapkan bahwa pada pagi hari ia melihat langsung air laut surut yang kemudian disusul oleh air pasang yang tampak mendidih dan saling berkejaran. "Kita semua pada panik, pada lari... lari melintang, air lautnya sapu tsunami sampai di atas," jelas Sodikin, menggambarkan kepanikan warga yang berlarian tak tentu arah untuk menghindari terjangan ombak. Ia juga memastikan bahwa rumah-rumah warga rata dengan tanah akibat sapuan ombak setinggi 2 meter tersebut.
Senada dengan Sodikin, Ulumah, yang merupakan Saksi Mata Tsunami, membenarkan dahsyatnya hantaman air laut. "Tsunami sampai di atas, air besar 2 meter tingginya," ujar Ulumah. Ia menambahkan bahwa seluruh rumah di sekitarnya hancur; meskipun ada beberapa bangunan yang dari luar masih terlihat berdiri utuh, seluruh perabotan dan bagian dalamnya sudah hancur lebur diterjang air.
Di tengah penderitaan kehilangan tempat tinggal, para penyintas merasa ditelantarkan karena bantuan tak kunjung tiba. Daud Manga, seorang Penyintas Gempa, menyatakan kekecewaan mendalamnya terhadap lambannya penanganan dan minimnya peringatan dari pemerintah setempat. Dengan kondisi memprihatinkan dan hanya menyisakan baju di badan, Daud mengeluhkan tidak adanya arahan evakuasi dari pihak berwenang.
"Kita sangat menyesal dengan pemerintah setempat karena kita tidak pernah mereka arahkan. Kalau (pakai) megafon tidak perlu pakai aliran meteran listrik, pakai baterai sudah bisa untuk keliling arahkan masyarakat ke mana tempatnya," sesal Daud.
Hingga saat diwawancarai, warga mengaku belum menerima bantuan logistik apa pun dari pemerintah daerah. "Kelihatan ini macam tidak ada apa-apa. Mi satu bungkus tidak ada, beras satu biji pun tidak ada. Tidak ada yang ke tempat. Kita masyarakat ini mau ke mana?" keluh Daud Manga, mewakili harapan warga yang sangat membutuhkan pasokan makanan, tenda pengungsian, dan petunjuk arah evakuasi yang jelas jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.
Merespons kondisi tanggap darurat, aparat keamanan dan tim SAR telah diterjunkan ke lokasi terdampak. Polri mengerahkan lebih dari 1.200 personel, yang mana 400 personel di antaranya ditugaskan khusus ke Kabupaten Nagekeo untuk mendukung proses pencarian, evakuasi, penanganan medis darurat, hingga pendirian dapur lapangan. Sementara itu, Tim Basarnas juga melakukan penyisiran menggunakan pesawat udara untuk mendukung proses evakuasi di wilayah-wilayah yang terisolasi akibat kerusakan infrastruktur jalan yang parah.
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat ada 68 orang meninggal dunia di provinsi Nusa Tenggara Timur akibat bencana ini, dengan 8 korban jiwa di antaranya berasal dari Kabupaten Nagekeo. Selain itu, sebanyak 213 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Warga masih diminta terus waspada karena dilaporkan telah terjadi lebih dari 2.100 kali aktivitas gempa susulan.
Sebagai informasi tambahan, analisis episenter dari BMKG menempatkan pusat gempa berada di sekitar 30 kilometer Timur Laut Nagekeo dengan kedalaman dangkal 15 kilometer. Bencana alam ini diakibatkan oleh adanya aktivitas tektonik pada Sesar Naik Flores.[SB.101/r]





0 Komentar