SARIBERITA.ID
Wajib Tahu untuk Ibu Muda: 7 Kesalahan Fatal Menyimpan ASI Perah yang Sering Diabaikan dan Risiko Bahayanya
Menyimpan Air Susu Ibu (ASI) perah memerlukan ketelitian tingkat tinggi agar kualitas gizi di dalamnya tetap terjaga dengan baik, di mana para ahli kesehatan secara resmi membeberkan tujuh kesalahan paling umum dan fatal yang sering dilakukan oleh para ibu dalam menyimpan ASI perah sehingga dapat berisiko menurunkan kandungan nutrisi serta memicu kontaminasi bakteri pada hari Senin, 3 Agustus 2026.
Pemberian ASI eksklusif merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang optimal bayi di masa-masa awal kehidupannya. Namun, bagi para ibu bekerja atau mereka yang memiliki produksi ASI berlebih, teknik memerah dan menyimpan ASI menjadi keterampilan krusial yang harus dikuasai secara benar agar tidak merusak kualitas cairan emas tersebut.
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah langsung mencampurkan ASI perah baru dengan ASI yang sudah didinginkan sebelumnya di dalam wadah yang sama. Tindakan ini sangat tidak dianjurkan karena perbedaan suhu dapat memicu pertumbuhan bakteri serta merusak kestabilan suhu dingin di dalam wadah penyimpanan.
Kesalahan kedua berkaitan dengan penggunaan wadah penyimpanan yang tidak tepat, seperti menggunakan botol plastik sekali pakai biasa atau wadah makanan umum yang tidak memiliki label food grade atau BPA-free. Wadah yang tidak sesuai standar medis dapat melunturkan zat kimia berbahaya ke dalam ASI yang kemudian dikonsumsi oleh bayi.
Kesalahan ketiga adalah mengabaikan aturan durasi dan batas suhu penyimpanan. Banyak ibu yang keliru menempatkan ASI di bagian pintu kulkas, padahal area tersebut merupakan bagian yang paling sering mengalami fluktuasi suhu akibat pintu yang sering dibuka-tutup, sehingga mempercepat proses kerusakan ASI.
Kesalahan keempat adalah tidak memberikan label tanggal dan waktu perahan pada kantong atau botol penyimpanan. Akibat kelalaian sepele ini, para ibu sering kali kebingungan membedakan mana ASI perah yang harus didahulukan untuk dikonsumsi, sehingga berisiko memberikan ASI yang sudah terlalu lama disimpan atau kedaluwarsa.
Kesalahan kelima adalah mencairkan ASI perah menggunakan air panas mendidih atau microwave. Cara instan ini terbukti sangat berbahaya karena panas yang berlebih dapat merusak protein penting, zat kekebalan tubuh, serta vitamin berharga yang terkandung di dalam ASI, selain juga berisiko membuat mulut bayi melepuh akibat panas yang tidak merata.
Kesalahan keenam adalah membekukan kembali ASI yang sudah sempat dicairkan. ASI perah yang telah mencair dan dibiarkan berada di suhu ruang tidak boleh dimasukkan kembali ke dalam freezer karena risiko kontaminasi mikroorganisme patogen sudah sangat tinggi dan membahayakan sistem pencernaan bayi.
Kesalahan ketujuh adalah mengabaikan kebersihan tangan dan peralatan pompa ASI sebelum proses pemerahan dimulai. Higienitas yang buruk menjadi pintu utama masuknya bakteri ke dalam ASI, yang kemudian dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan pencernaan seperti diare dan infeksi saluran cerna lainnya.
Pemahaman yang mendalam mengenai tata cara penyimpanan ASI perah yang benar diharapkan dapat membantu para ibu dalam menjaga kualitas nutrisi terbaik bagi buah hati tercinta. Dengan menghindari ketujuh kesalahan tersebut, tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal tanpa perlu khawatir akan ancaman kontaminasi bakteri maupun penurunan kualitas gizi makanan utama bayi.
[SB.09/cahaya ]*


.jpg)


0 Komentar