Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Tradisi Sensus Angsa Tahunan di Sungai Thames Inggris Kembali Digelar untuk Tujuan Konservasi

 


SARIBERITA.ID - Kegiatan sensus angsa tahunan, atau yang secara historis dikenal dengan tradisi Swan Upping, kembali digelar di Sungai Thames, Inggris. Dalam kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini, petugas menyusuri perairan sungai untuk melakukan pencatatan populasi sekaligus pemeriksaan kesehatan menyeluruh terhadap angsa-angsa yang berhabitat di sana.

Di Sungai Thames, angsa bukan sekadar pemandangan satwa biasa, melainkan bagian dari tradisi panjang kerajaan yang prestisius. Setiap tahun, tim profesional yang mengenakan seragam khas tradisional mendayung perahu kayu kecil untuk berpatroli di sepanjang sungai. Meskipun tradisi ini sepintas terlihat seperti reka ulang sejarah masa lampau, kegiatan ini memiliki fungsi vital di era modern untuk memantau status kesehatan fauna tersebut.

Pada masa lalu, tujuan dari Swan Upping sangatlah berbeda. David Barber, Penanda Angsa Resmi Raja Inggris (Swan Marker to His Majesty the King), menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-12.

"Pada masa-masa awal, Swan Upping adalah tentang mengamankan pasokan makanan yang sangat penting. Angsa disajikan pada pesta dan perjamuan besar. Tentu saja, hari ini angsa tidak lagi dikonsumsi dan telah menjadi spesies yang dilindungi. Jadi, Swan Upping saat ini sepenuhnya adalah tentang konservasi dan edukasi," ungkap David Barber.

Meskipun angsa tidak lagi diburu untuk santapan, ancaman terhadap kelestariannya dari aktivitas manusia tetap ada. Pada dekade 1980-an, populasi angsa sempat menurun drastis akibat keracunan timbal dari kail pancing yang digunakan para pemancing. Pelarangan penggunaan timbal pancing di masa berikutnya kemudian berhasil membantu memulihkan populasi spesies ini kembali ke tingkat sebelum Perang Dunia II.

Tantangan alam yang dihadapi saat ini justru datang dari krisis perubahan iklim. Inggris dan Eropa kini tengah menghadapi salah satu periode terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah. Walaupun suhu tinggi dan gelombang panas memicu kebakaran lahan di berbagai tempat, angsa-angsa di Sungai Thames terpantau masih dapat beradaptasi karena mereka mencari area teduh di semak-semak dan anak sungai kecil. Meski demikian, cuaca ekstrem yang memicu pergerakan ini dinilai meningkatkan kekhawatiran akan mempermudah penyebaran flu burung.

Bagi para petugas pencatat di lapangan, cuaca terik ini menjadi tantangan fisik tersendiri. Tim pendayung kapal diwajibkan untuk mengonsumsi cairan dalam jumlah besar guna menghindari dehidrasi selama penyusuran sungai. Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, hasil awal dari sensus tahun ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Jerry McCarthy, Master Tongkang Angsa Dyer (Dyer's Swan Barge Master), mencatat adanya tren pertumbuhan populasi yang positif dan stabil di perairan Thames.

"Kami mendata 119 ekor burung (angsa) pada tahun lalu, dan angka ini menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Jadi, kami memperkirakan ada sekitar 120 ekor pada tahun ini. Kami tahu masih banyak burung di kawasan hulu sungai, dan kami akan terus melakukan pendataan ini dari hari Senin hingga Jumat," jelas Jerry McCarthy.

Secara aturan turun-temurun, Raja Inggris memiliki hak kepemilikan atas seluruh angsa bisu (mute swan) yang tidak memiliki tanda khusus di perairan terbuka. Selama patroli sensus, setiap kali petugas menemukan keluarga angsa, mereka akan meneriakkan seruan "All Up!" untuk saling memberi tahu. Tim perahu kemudian akan bermanuver mengepung angsa tersebut, mengangkatnya dari air dengan hati-hati, melakukan penimbangan dan pengukuran, serta memeriksa fisik angsa dari tanda-tanda cedera sebelum akhirnya dilepaskan kembali ke sungai.[SB.104/Pebri]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital