SARIBERITA.ID Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali melanda sejumlah daerah di Provinsi Riau seiring dengan datangnya musim kemarau yang terjadi sejak awal bulan Agustus 2026. Merespons kondisi tersebut, Polda Riau bersama tim gabungan langsung mengerahkan anggota untuk memadamkan kawasan gambut yang terbakar.
Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, saat ini telah terdeteksi sebanyak 115 titik panas atau hotspot yang tersebar di 11 kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Titik panas terbanyak ditemukan di Kabupaten Bengkalis dengan 30 titik, disusul Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak 29 titik, dan Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 22 titik.
Selain wilayah tersebut, kebakaran lahan juga melanda area di sekitar perkebunan kelapa sawit yang berada di Kabupaten Rokan Hilir. Menyikapi hal ini, Polda Riau langsung melakukan patroli udara menggunakan helikopter untuk memantau kebakaran lahan di pesisir timur Pulau Sumatera. Dari pantauan udara tersebut, terlihat kepulan asap tebal menyebar luas di atas area lahan bergambut. Kuat dugaan, kebakaran ini dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan baru untuk usaha perkebunan.
Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi, turun langsung ke lapangan untuk memantau penanganan karhutla bersama tim gabungan dari unsur TNI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau. Tim gabungan tersebut langsung dikerahkan ke lokasi titik api utama di Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir.
Regu pemadam yang terdiri dari personel Polda Riau, TNI, Manggala Agni, BPBD Riau, hingga warga masyarakat setempat terus berjibaku memadamkan api agar tidak semakin meluas. Lahan yang terbakar di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 5 hingga 6 hektare, yang mayoritas terdiri dari tanah bergambut dan semak belukar.
Terkait dengan progres penanganan di lokasi, Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki Haryadi menyampaikan bahwa api di titik tersebut sudah berhasil dikendalikan.
"Hasil deteksi kami saat ini, hotspot yang paling menjadi perhatian kami berdampak pada area seluas 5 sampai 6 hektare. Saat ini sudah berhasil kita padamkan dan sekarang tengah dalam fase pendinginan. Ke depannya, kita terus memantau wilayah-wilayah lain agar tidak terjadi peningkatan atau penambahan hotspot kebakaran lahan," tegas Brigjen Pol Hengki Haryadi.
Otoritas terkait akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan ketat, mengingat titik panas di Provinsi Riau dilaporkan terus mengalami peningkatan di tengah musim kemarau ekstrem tahun ini.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar