SARIBERITA.ID| Bank Indonesia (BI) mencatat adanya lonjakan Utang Luar Negeri (ULN) sebesar 55,7% pada kuartal kedua tahun 2026. Peningkatan ini disebut sebagai langkah strategis bank sentral dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan depresiasi yang mencapai 4,96% sepanjang periode tersebut.
Berdasarkan data yang dilaporkan, posisi utang luar negeri Bank Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan, dari USD 27,26 miliar pada bulan Maret 2026 menjadi USD 42,46 miliar pada bulan Juni 2026. Dari total tambahan utang tersebut, porsi terbesar yakni 90,4% berasal dari Bank Indonesia. Secara spesifik, sebanyak USD 16,37 miliar di antaranya berasal dari instrumen surat utang.
Lonjakan porsi utang BI ini tercatat jauh melampaui peningkatan utang luar negeri dari sisi pemerintah, yang hanya mengalami kenaikan sebesar USD 1,62 miliar pada periode yang sama.
Agresivitas Bank Indonesia dalam mengelola moneter dan arus modal asing ini dilakukan sebagai upaya konkret untuk meredam volatilitas Rupiah. Seperti diketahui, mata uang Garuda sempat menyentuh rekor terlemahnya di level Rp 18.178 per Dolar Amerika Serikat pada tanggal 8 Juni 2026 lalu.
Melalui langkah ini, Bank Indonesia berupaya memastikan agar aset Rupiah tetap menarik di mata investor asing. Hal ini dinilai krusial guna mencegah terjadinya arus modal keluar (capital outflow) secara masif, yang berisiko menambah tekanan lebih besar pada pasar valuta asing nasional.[SB.101/r]





0 Komentar