Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Mentan Amran Sulaiman Beberkan Penyebab Harga Beras Sulit Turun dan Pentingnya Menjaga Kesejahteraan Petani


 SARIBERITA.ID| 
Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Amran Sulaiman, membeberkan sejumlah alasan mengapa harga beras di pasar saat ini belum mengalami penurunan yang signifikan, meskipun cadangan beras nasional di gudang Perum Bulog mencapai angka rekor sebesar 5,2 juta ton. Mentan menekankan bahwa menjaga harga beras bukan hanya soal stabilitas bagi konsumen, melainkan juga demi kelangsungan hidup 115 juta jiwa petani dan keluarganya di seluruh Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Mentan Amran saat menjadi narasumber dalam program bincang Top Economy. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa melimpahnya stok beras saat ini, di mana 2,2 juta ton di antaranya disimpan dengan cara menyewa gudang tambahan, merupakan pencapaian luar biasa pemerintahan saat ini.

"Dan pertama dalam sejarah kita sewa gudang. Kapasitas gudang Bulog kan cuma 3 juta ton, kita sewa 2 juta ton, sekarang 2,2 juta ton. Hebat kan pemerintahan sekarang? Bulog hadir untuk negara, untuk rakyat Indonesia, sebagai buffer untuk petani dan konsumen," jelas Mentan Amran.

Amran menjelaskan bahwa Bulog wajib menyerap gabah atau beras hasil panen para petani dalam kondisi apapun guna menyelamatkan mereka dari kebangkrutan. Jika Bulog tidak menyerapnya, petani sangat rentan jatuh miskin, dan dampaknya bisa membuat mereka enggan untuk kembali bertani. Jika petani enggan menanam padi kembali karena merugi, maka produksi dalam negeri akan anjlok, yang berujung pada ketergantungan impor dan melambungnya harga beras.

elum juga turun drastis di tengah surplus stok, Mentan Amran mengungkapkan adanya campur tangan mafia beras. Salah satu praktik culas yang disorotinya adalah manipulasi beras fortifikasi palsu, yang secara langsung berdampak pada kenaikan harga beras secara umum.

"Menaikkan harga yang harusnya harganya Rp12.000, dijual Rp22.000, ada yang Rp26.000, Rp28.000, ada yang Rp42.000. Nipu Rp10.000 per kilo. Kira-kira menurut Anda naik enggak harga di pasar kalau begini?" tegas Amran.

Mentan menyebut bahwa praktik mafia beras yang mempermainkan pasar ini mencakup hampir 40 persen dari total distribusi beras. Hal ini sangat memengaruhi keseimbangan harga, mengingat mempermainkan 10 persen saja sudah cukup untuk mendistorsi harga, terlebih jika mencapai angka 40 persen.

Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk menindak tegas para mafia pangan maupun koruptor yang mempermainkan perut rakyat, termasuk membersihkan internal kementeriannya sendiri.

"Kami kerja untuk rakyat, kami kerja untuk petani, kami kerja untuk rakyat Indonesia. Kami tidak akan mundur setapak pun memberantas mafia ini, koruptor ini yang bermain-main. Bukan saja di luar, di (Kementerian) Pertanian juga pegawai saya, saya pecat, saya berhentikan," tegas Amran.

Selain faktor mafia, Mentan Amran juga memberikan pandangan mendalam dari sisi kesejahteraan petani. Menurut perhitungannya, dengan harga beras yang dikeluhkan mahal oleh sebagian pihak saat ini, pendapatan bersih harian seorang petani padi selama empat bulan masa tanam hanyalah sekitar Rp30.000 per hari. Angka ini bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan penghasilan pekerja bangunan yang bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari.

Amran menantang pihak-pihak yang terus mendesak penurunan harga beras agar memikirkan nasib para petani.

"Pendapatannya sekarang Rp30.000 bersih (per hari), Bapak mau turun berapa lagi? Mau turun Rp10.000? Berarti pendapatannya petani tinggal Rp20.000. Cukup enggak makan Rp20.000 per hari beli pakaian untuk 115 juta saudara kita di sana?" ungkapnya.

Amran menegaskan bahwa kementeriannya bertugas menjaga keseimbangan, yakni memastikan produsen (petani) bisa tersenyum dengan pendapatan yang layak, dan di saat yang sama konsumen juga bahagia. Jika kesejahteraan petani diabaikan demi menekan harga pasar semurah mungkin, hal itu sama saja dengan mendorong 115 juta keluarga petani jatuh miskin.

"Kita jaga produsen tersenyum, kemudian konsumen juga bahagia. Jangan ada mafia fortifikasi dan prioritas premium. Damai ini republik," tutup Amran Sulaiman.[SB.101/Ran]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital