SARIBERITA.ID, Jakarta – Di balik tegapnya langkah dan sempurnanya formasi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional setiap tanggal 17 Agustus, terdapat sosok luar biasa yang mendedikasikan separuh hidupnya di balik layar. Melalui program liputan Selamat Pagi Indonesia, terungkap kisah inspiratif Kak Toto, seorang pamong senior yang telah mengabdi tanpa kenal lelah selama 40 tahun dalam membina putra-putri terbaik bangsa.
Sejak awal dekade 80-an, Kak Toto telah menjadi figur sentral di "Desa Bahagia", sebutan akrab untuk asrama pemusatan latihan Paskibraka Nasional. Baginya, mendidik anggota Paskibraka bukan sekadar mengajarkan tata cara baris-berbaris yang presisi, melainkan sebuah proses panjang dalam membentuk karakter, ketangguhan mental, dan menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada generasi muda perwakilan seluruh provinsi di Indonesia.
Kak Toto, selaku Pamong Senior Paskibraka Nasional, membagikan kisah tentang kecintaannya pada tugas negara ini yang membuatnya bertahan hingga empat dekade.
"Mengabdi sebagai pamong adalah panggilan jiwa yang mengakar di hati saya. Melihat anak-anak yang awalnya datang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda, lalu menyatu menjadi sebuah keluarga yang solid dan bermental baja, adalah kebanggaan yang tidak bisa dinilai dengan materi atau apa pun. Saya selalu ingin memastikan mereka tidak hanya sukses dan tanpa celah saat mengibarkan bendera di Istana, tetapi juga siap menjadi pemimpin masa depan Indonesia yang berkarakter teguh," tuturnya penuh semangat.
Dedikasi tanpa pamrih yang diberikan Kak Toto telah mencetak ribuan Purna Paskibraka (PPI) yang kini sukses berkiprah di berbagai bidang, mulai dari institusi militer, pemerintahan, hingga sektor profesional. Ketegasan yang ia terapkan selama di lapangan latihan selalu diimbangi dengan pendekatan welas asih layaknya seorang ayah saat para peserta berada di dalam asrama.
Hal ini turut diamini oleh Rina Safitri, perwakilan Purna Paskibraka Nasional, yang membagikan kenangan mendalamnya saat dididik langsung oleh Kak Toto.
"Kak Toto adalah sosok ayah sesungguhnya bagi kami semua selama berada di asrama. Di lapangan, beliau sangat tegas, disiplin, dan tidak ada kompromi untuk sebuah kesalahan bermanuver. Namun, di luar jam latihan, beliau adalah tempat kami bersandar, bercerita, dan yang paling pertama menguatkan mental kami saat menangis karena rindu keluarga. Beliau adalah jantung dari keluarga besar Paskibraka Nasional," ungkap Rina dengan nada haru.
Di usianya yang tak lagi muda, semangat pengabdian Kak Toto tidak pernah menunjukkan tanda-tanda meredup. Jejak langkah, petuah, dan nilai-nilai kedisiplinan yang ia wariskan selama 40 tahun ini diyakini akan terus hidup dan menjadi fondasi utama dalam setiap detak jantung para pengibar bendera pusaka dari generasi ke generasi.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar