SARIBERITA.ID Bencana kekeringan panjang mulai memicu berbagai dampak serius di sejumlah daerah. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyusutnya debit air sungai menyebabkan tanah amblas hingga merusak bangunan. Sementara itu, warga di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, harus bertahan dari krisis air bersih yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
Berdasarkan laporan langsung dari Reporter tvOneNews Biro Yogyakarta, Danita Riadini, yang disampaikan kepada Presenter Sita di studio, fenomena tanah amblas yang cukup parah terjadi di sepanjang aliran Sungai Silugonggo, Kabupaten Pati. Mengeringnya sungai tersebut memicu pergeseran dan retakan tanah sepanjang 100 meter di kawasan bantaran.
Kondisi ini menyebabkan sejumlah bangunan dan pagar tembok milik warga yang berada tepat di tepi sungai menjadi miring dan dikhawatirkan segera ambruk. Beberapa bagian tanah bahkan dilaporkan sudah longsor mengarah ke dasar sungai yang mengering.
Kondisi ini memicu kecemasan mendalam bagi penduduk setempat. Warga waswas lantaran retakan tanah terus meluas, sementara jarak antara bibir sungai dengan rumah warga hanya tersisa beberapa meter saja. Jika tidak segera ada penanganan dari pihak terkait, amblasan tanah ditakutkan akan terus merambat dan menelan kawasan permukiman.
Di wilayah lain, dampak musim kemarau juga mencekik warga di kawasan Pegunungan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Sejak bulan Juni lalu, masyarakat setempat sangat kesulitan mengakses pasokan air bersih.
Guna memenuhi kebutuhan dasar, warga kini hanya bisa berharap pada bantuan distribusi (dropping) air bersih yang disalurkan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Mereka rela mengantre jeriken berjam-jam di bawah terik matahari demi mendapatkan jatah air. Sebagian warga lainnya terpaksa mencari sumber mata air kecil atau mengambil sisa air di aliran sungai yang lokasinya sangat terpencil dengan medan yang sulit.
Merespons krisis yang meluas ini, Wakil Bupati Kulon Progo (mewakili Pemkab setempat) menyatakan bahwa pihaknya terus mengupayakan langkah penanganan darurat dan jangka panjang. Pemkab Kulon Progo secara intensif berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ke depannya, Pemkab juga berencana menjalin koordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk melakukan reboisasi guna menjaga kawasan tangkapan air.
Selain terus merutinkan penyaluran air bersih, upaya pembuatan sumur bor juga sedang dipersiapkan untuk mengatasi krisis kekeringan. Berdasarkan catatan Pemkab Kulon Progo, saat ini terdapat enam kecamatan yang terdampak krisis air bersih paling parah, meliputi Kecamatan Samigaluh, Girimulyo, Kalibawang, Pengasih, Kokap, dan Lendah.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar