SARIBERITA.ID Musim kemarau panjang yang diperparah oleh fenomena El Nino yang kuat telah memicu krisis air bersih di sebagian besar wilayah Indonesia. Kesulitan mendapatkan pasokan air bersih ini dinilai tidak semestinya dianggap sebagai hal yang lumrah dan disikapi dengan pasrah, melainkan membutuhkan kehadiran nyata dari negara untuk memastikan kebutuhan dasar warganya tetap terpenuhi.
Krisis ketersediaan air ini telah menjadi beban nyata bagi kehidupan masyarakat. Kondisi memprihatinkan tersebut salah satunya dirasakan oleh warga Dusun Romo Kamal, Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Sejumlah sumber air yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga mulai mengering.
Akibatnya, warga setempat terpaksa harus berjalan kaki hingga beberapa kilometer demi mendapatkan air. Sebagian warga lainnya bahkan harus rela mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Bagi masyarakat yang hidup dengan penghasilan terbatas, pengeluaran ekstra semacam ini tentu menjadi beban yang sangat berat.
Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Jawa Tengah. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, tercatat sedikitnya lebih dari 450.000 warga di wilayah Jawa Barat tengah mengalami krisis air bersih. Sebagai langkah penanganan, sebanyak 8,7 juta liter air bersih telah disalurkan ke 23 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Krisis air bersih ini juga dilaporkan mulai melanda berbagai provinsi lain di Indonesia, seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Banten, Lampung, serta sejumlah wilayah di Pulau Sumatera.
Sementara itu, pihak pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengklaim telah melakukan sejumlah langkah penanggulangan kekeringan. Hingga 5 Agustus 2026, Kementerian PU mencatat telah melakukan penanganan kekeringan di 492 lokasi di seluruh Indonesia.
Dari total ratusan lokasi tersebut, sebanyak 105 lokasi merupakan area persawahan dengan luas mencapai 22.210 hektare yang ditangani guna menjaga stabilitas produktivitas pertanian. Sementara itu, 387 lokasi lainnya merupakan kawasan permukiman untuk melayani kebutuhan air bersih bagi lebih dari 155.000 jiwa. Dari keseluruhan target, sebanyak 442 lokasi dilaporkan telah selesai ditangani, dan 50 lokasi sisanya masih dalam proses pengerjaan.
Bantuan distribusi air melalui truk tangki memang sangat penting dan dibutuhkan dalam situasi darurat. Namun, distribusi air bersih ini tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban pemerintah. Pemerintah daerah dan pusat dituntut untuk mulai memikirkan solusi penyediaan air yang lebih permanen agar kekeringan tidak lagi menjadi tanggungan beban rutin tahunan bagi rakyat. Ketersediaan air berkaitan langsung dengan kesehatan, pendidikan, produktivitas ekonomi rumah tangga, dan ketahanan pangan nasional, sehingga pola penanganan yang hanya reaktif mengirim tangki air di saat kemarau tidak boleh terus diulang setiap tahunnya.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar