JAKARTA - Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 diprediksi akan berlangsung sangat dinamis. Mulai tahun 2027 mendatang, Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), diproyeksikan bakal menjadi incaran dan rebutan banyak partai politik untuk maju di kancah Pilpres.
Hal tersebut disampaikan oleh Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani, dalam analisisnya yang disiarkan melalui kanal YouTube JCC Network. Ia menilai, posisi KDM yang kini bernaung di bawah Partai Gerindra bisa saja memicu langkah politik yang mengejutkan, yakni berpisah jalan dengan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto.
Dalam penjelasannya, Ray Rangkuti menyoroti adanya pergeseran selera masyarakat terhadap sosok pemimpin. Publik saat ini dinilai lebih menyukai tipe pemimpin yang tegas, cepat, dan eksekutorial—yakni figur yang langsung turun tangan menyelesaikan persoalan di lapangan. Kriteria ini melekat kuat pada sosok KDM, yang popularitasnya juga tercermin dari fenomena lagu "Tabola Balai". Tren ini juga disamakan dengan gaya kepemimpinan tokoh daerah lain seperti Sherly Tjoanda di Maluku Utara.
Menurut Ray, pola pendekatan politik di Indonesia telah berubah. Pola politik yang kerap dipakai Prabowo Subianto—seperti gaya era 70 hingga 90-an berupa pidato menyerang lawan politik, membagikan bansos, atau melempar kaos dari atas mobil—dinilai sudah usang dan mulai ditinggalkan. Begitu pula dengan taktik "pemimpin terzalimi" era Presiden SBY maupun taktik "masuk gorong-gorong" ala Presiden Joko Widodo, yang menurutnya sudah kehilangan tuahnya sejak Pilkada 2020 hingga Pemilu 2024.
Dampak dari pergeseran selera publik ini turut memengaruhi elektabilitas tokoh-tokoh politik nasional. Direktur Eksekutif Lingkar Madani itu menggarisbawahi anomali elektabilitas di mana tingkat keterpilihan Prabowo berpotensi menurun, sementara nama KDM justru semakin bersinar.
"Ibaratnya sekarang ini, Prabowo yang menanam, KDM yang menuai. Prabowo yang bagi-bagi program MBG (Makan Bergizi Gratis), tetapi yang naik elektabilitasnya adalah KDM," ungkap Ray Rangkuti.
Potensi KDM Tinggalkan Gerindra Terkait posisi KDM di Partai Gerindra, Ray meyakini tidak menutup kemungkinan KDM akan berani mengambil langkah mandiri pada 2029. Ia mengingatkan kembali pada rekam jejak masa lalu KDM yang berani melangkah keluar dari Partai Golkar, partai yang telah membesarkan namanya.
"Jika KDM bisa meninggalkan Golkar, apa yang membuat dia tidak bisa meninggalkan Gerindra? Padahal ia adalah anggota baru yang dipinang Gerindra di Jawa Barat. Politik di Indonesia selalu dinamis, sama seperti Jokowi yang bisa meninggalkan Ibu Megawati," tuturnya.
Indikator lain yang memperkuat sinyal kemandirian politik KDM adalah sikapnya yang kerap berseberangan dengan pemerintah pusat. Ray Rangkuti mencatat bahwa Dedi Mulyadi adalah salah satu kepala daerah yang paling sering dan terbuka memiliki perbedaan pendapat dengan kebijakan pusat.
Insiden terbaru yang disinggungnya adalah saat Dedi Mulyadi terlibat 'berbalas pantun' atau perdebatan dengan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra. Keduanya diketahui berselisih pandang terkait kebijakan kontroversial KDM yang menggelar "Sayembara Begal".
Sikap independen KDM di tingkat daerah ini memunculkan pertanyaan besar untuk masa depan perpolitikan nasional. "Apakah ini ciri-ciri bahwa Dedi Mulyadi akan mencari pasangan yang lain di 2029? Wallahu'alam," pungkas Ray Rangkuti. [SB.100]**





0 Komentar