SARIBERITA.ID, Jakarta – Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan kolesterol tinggi sering kali dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam. Melalui diskusi edukatif dalam program kesehatan Go Healthy, terungkap sebuah fakta medis yang mengkhawatirkan: sebagian besar penderita baru menyadari kondisi mereka setelah penyakit tersebut berkembang menjadi komplikasi serius yang mengancam jiwa.
Ketidaksadaran masyarakat ini umumnya berakar dari minimnya gejala fisik pada tahap awal. Banyak orang merasa sehat dan bugar, sehingga mengabaikan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Padahal, akumulasi tekanan darah tinggi dan plak kolesterol yang tidak terkontrol perlahan-lahan merusak sistem pembuluh darah dan organ vital di dalam tubuh.
dr. Andi Setiawan, Sp.JP, selaku Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, memaparkan bahaya tersembunyi dari kedua kondisi medis tersebut.
"Sering kali pasien datang ke ruang gawat darurat sudah dalam keadaan terkena serangan jantung atau stroke. Ketika ditelusuri riwayatnya, ternyata mereka sudah bertahun-tahun memiliki tensi dan kolesterol yang melampaui batas normal, namun tidak pernah berobat karena merasa tidak ada keluhan seperti pusing atau tengkuk pegal. Komplikasi seperti stroke dan gagal jantung inilah yang sebenarnya menjadi penanda dari kerusakan organ yang sudah dibiarkan terlalu lama," jelasnya.
Hal senada turut ditekankan oleh dr. Maria Lestari, Sp.PD, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Ia menyoroti pentingnya deteksi dini sebagai langkah preventif yang paling efektif.
"Kita sama sekali tidak bisa hanya mengandalkan perasaan sehat atau sekadar 'merasa baik-baik saja'. Hipertensi dan hiperkolesterolemia hanya bisa dipastikan melalui pengukuran medis dan tes laboratorium yang akurat. Masyarakat, terutama yang memiliki riwayat genetik dari keluarga atau sudah memasuki usia 30 tahun ke atas, sangat diwajibkan untuk melakukan medical check-up rutin setidaknya enam bulan hingga satu tahun sekali," tegas dr. Maria.
Para pakar dalam program tersebut juga menyimpulkan bahwa modifikasi gaya hidup adalah pondasi utama dalam memutus rantai komplikasi. Pengaturan pola makan dengan mengurangi asupan garam dan lemak jenuh, rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, mengelola stres dengan baik, serta menghentikan kebiasaan merokok adalah langkah mutlak yang harus dilakukan. Edukasi ini diharapkan mampu mengubah stigma masyarakat agar lebih reaktif mencegah sebelum komplikasi terlanjur terjadi.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar