Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Sebulan Berkobar Tanpa Henti, 'Neraka' Gambut di Palangka Raya Ancam Permukiman Warga


 SARIBERITA.ID| Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di wilayah Kalimantan Tengah. Hingga saat ini, kebakaran lahan gambut yang melanda wilayah Palangka Raya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan usai. Bencana yang mengganggu kualitas udara ini tercatat telah berlangsung selama kurang lebih satu bulan penuh tanpa henti.

Titik api yang sangat sulit dipadamkan ini berlokasi tepatnya di kawasan Jalan Merdeka 1, Kota Palangka Raya. Di lokasi tersebut, kepulan asap putih dan tebal masih terus bermunculan setiap harinya, menandakan bara di bawah permukaan gambut masih menyala. Bahkan, kobaran api sewaktu-waktu bisa kembali membesar dan menjilat permukaan lahan kering di sekitarnya.

Sebenarnya, tim petugas gabungan tidak tinggal diam melihat kondisi kebakaran yang masif tersebut. Lahan gambut yang terbakar itu sebelumnya sudah sempat berhasil dipadamkan melalui upaya keras para petugas di lapangan. Namun, karakteristik tanah gambut membuat api yang bersembunyi di kedalaman tanah kembali muncul ke permukaan tak lama setelah proses pemadaman.

Kondisi yang terus berulang ini memaksa petugas harus bekerja ekstra keras dan ditarik kembali ke medan yang sama. Mereka harus rutin kembali ke lokasi untuk terus-menerus melakukan proses pemadaman dan pendinginan lahan secara berulang kali. Pendinginan menjadi langkah krusial untuk memastikan tidak ada lagi suhu panas yang berpotensi memicu api baru.

Terkait situasi yang cukup rumit di lapangan ini, Petugas Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kota Palangka Raya, Nana, memberikan penjelasannya kepada awak media. Ia mengonfirmasi bahwa kebakaran lahan yang terjadi di area tersebut memang menjadi salah satu yang paling membandel. Menurutnya, api sudah membakar kawasan Jalan Merdeka 1 itu selama lebih dari satu bulan.

Nana mengungkapkan bahwa titik api sebenarnya cukup banyak dan terus merambat secara perlahan. Ia menuturkan bahwa rambatan si jago merah pada awalnya berasal dari ujung kawasan Jalan Merdeka 4. Api kemudian terus bergerak dan meluas hingga mencapai area Jalan Merdeka 1 yang saat ini menjadi fokus pemadaman.

Lebih lanjut, Nana menjelaskan alasan logis mengapa api di kawasan tersebut sangat sulit untuk ditaklukkan secara permanen. Menurutnya, kedalaman lapisan gambut di lokasi itu memicu bara yang tak kasat mata. Diperparah dengan faktor hembusan angin yang kencang, bara api yang tertimbun itu dengan mudah mendapatkan oksigen dan kembali menyala di permukaan.

Mengganasnya api di lahan gambut ini tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga menghadirkan ancaman langsung bagi warga sekitar. Titik kebakaran diketahui semakin meluas dan mendekati kawasan permukiman penduduk. Hal ini tentu saja memicu kekhawatiran besar akan terjadinya kerugian harta benda hingga ancaman keselamatan jiwa.

Bukti nyata dari bahaya rambatan tersebut telah terbukti beberapa waktu yang lalu. Nana menceritakan bahwa pada beberapa minggu sebelumnya, kobaran api dari lahan gambut sempat menjalar tak terkendali ke arah bangunan. Akibatnya, terdapat satu bangunan rumah kosong milik warga yang ikut hangus dilahap si jago merah.

Dalam upaya memutus rantai penyebaran api ini, tim Satgas Karhutla dihadapkan pada kendala yang sangat vital. Nana menyebutkan bahwa selain masalah ketebalan gambut, rintangan utama yang menghambat kelancaran proses pemadaman adalah sangat minimnya ketersediaan sumber air di titik lokasi kebakaran.

Guna menyiasati keterbatasan pasokan air tersebut, para petugas kini memutar otak untuk memanfaatkan fasilitas apa saja yang tersisa di lokasi. Saat ini, tim Satgas sangat bergantung pada suplai air yang dipompa secara manual dari sebuah sumur bor yang letaknya berada di area bekas rumah kosong yang hangus terbakar tersebut.

Sementara itu, skala dampak meluasnya karhutla ini turut tercatat dalam data resmi pemerintah daerah setempat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa sejak bulan Juni hingga 13 Oktober 2026, total luasan lahan yang hangus terbakar di Palangka Raya telah menembus angka 1.444 hektare, dengan total insiden karhutla mencapai 887 kali kejadian.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰