Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Helikopter Lumpuh Dihadang Asap, BNPB Bertumpu pada Operasi Darat Atasi Karhutla Kalteng dan Sumsel


SARIBERITA.ID| 
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, kini memasuki fase yang semakin menantang. Kepulan asap tebal sisa pembakaran lahan telah menyelimuti angkasa dan berdampak langsung pada kualitas udara di kawasan tersebut. Kondisi ini membuat upaya pemadaman yang dilakukan oleh tim gabungan di lapangan mengalami hambatan operasional yang cukup signifikan.

Dampak paling nyata dari pekatnya kabut asap ini adalah menurunnya jarak pandang atau visibility secara drastis di udara. Situasi ini nyatanya melumpuhkan salah satu armada utama dalam upaya pemadaman karhutla berskala besar, yakni helikopter water bombing. Sudah lebih dari sepekan terakhir, armada udara andalan ini terpaksa dikandangkan dan sama sekali tidak dapat beroperasi memadamkan titik api di wilayah udara Provinsi Kalimantan Tengah.

Kondisi serupa nyatanya juga sempat melanda wilayah Provinsi Sumatera Selatan yang juga menjadi daerah langganan karhutla setiap tahunnya. Pekatnya asap membuat penerbangan helikopter pengebom air di wilayah tersebut dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan kru. Armada udara di Sumatera Selatan dilaporkan baru bisa kembali mengudara secara terbatas pada hari ini setelah sebelumnya terhalang oleh pekatnya kabut asap.

Merespons situasi darurat dan kebuntuan operasi udara tersebut, pemerintah pusat langsung mengambil langkah taktis yang cepat. Penanganan karhutla di kedua provinsi ini menjadi sorotan utama dan dibahas secara khusus dalam sebuah rapat terbatas kabinet. Rapat krusial tingkat tinggi tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, guna mencari solusi penanganan darurat yang komprehensif.

Dalam pemaparannya pada rapat terbatas tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suhariyanto, menjelaskan strategi terbaru dari pemerintah. Mengingat lumpuhnya dukungan helikopter, ia menegaskan bahwa BNPB kini mengubah taktik penanganan bencana di garis depan. Fokus utama pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan kini dialihkan dan dititikberatkan secara penuh pada operasi darat.

Keputusan strategis untuk memprioritaskan operasi darat diambil sebagai langkah paling rasional di tengah kondisi cuaca yang tidak memungkinkan bagi penerbangan. Tim pemadam darat yang terdiri dari berbagai unsur kini harus merapatkan barisan dan bekerja ekstra keras. Mereka dikerahkan untuk langsung menjangkau titik-titik api yang masih menyala, meski harus menembus medan lahan gambut yang sulit dan berbahaya.

"Untuk di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan ini tetap kami masih menitikberatkan pada operasi darat. Di Kalimantan Tengah khususnya, kami laporkan bahwa untuk helikopter water bombing ini sudah hampir seminggu lebih tidak bisa terbang karena visibility rendah," ungkap Kepala BNPB Letjen TNI Suhariyanto saat memberikan penjelasan mengenai kendala di lapangan.

Meskipun operasi udara konvensional dengan water bombing terhambat, BNPB tidak lantas pasrah begitu saja. Strategi udara alternatif yang kini tengah digenjot secara maksimal oleh BNPB adalah melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dinilai sangat krusial dan akan dipadukan dengan operasi darat untuk memancing turunnya hujan buatan yang diharapkan mampu meredam amukan api.

Untuk merealisasikan dan memperkuat operasi modifikasi cuaca tersebut, BNPB telah menyiagakan armada pesawat khusus di daerah-daerah yang paling parah terdampak. Khusus untuk wilayah udara Kalimantan Tengah yang kondisi asapnya sangat mengkhawatirkan, pemerintah menaruh perhatian ekstra. Sebanyak empat unit pesawat khusus modifikasi cuaca telah disiapkan dan disiagakan untuk menyemai awan di langit Kalimantan Tengah.

Sementara itu, penguatan armada untuk rekayasa cuaca juga dialokasikan guna mendukung pemadaman masif di wilayah Sumatera Selatan. Letjen TNI Suhariyanto menyebutkan bahwa pihaknya mengerahkan dua armada pesawat tambahan yang diberangkatkan secara khusus dari Pangkal Pinang. Pesawat-pesawat ini bertugas menyisir dan menaburkan garam pada awan-awan potensial di atas wilayah daratan Sumatera Selatan.

Di samping segala upaya keras manusia melalui kekuatan operasi darat dan teknologi rekayasa cuaca, pemerintah juga menaruh harapan pada siklus iklim alamiah. Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masa kering ini diproyeksikan akan segera berakhir. BMKG memperkirakan bahwa curah hujan akan mulai meningkat saat memasuki awal musim penghujan pada pertengahan bulan Oktober hingga bulan November mendatang.

Datangnya curah hujan alami tentu menjadi harapan terbesar bagi seluruh masyarakat yang terdampak dan tim pemadam yang tak kenal lelah di lapangan. Sinergi antara masifnya operasi darat, keberhasilan operasi modifikasi cuaca, dan turunnya hujan dari alam diharapkan menjadi solusi yang paripurna. Dengan demikian, krisis karhutla ini dapat segera teratasi secara tuntas, dan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan menghirup udara yang bersih dan sehat.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰