SARIBERITA.ID| Pemerintah terus mempersiapkan berbagai strategi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi hingga 8% serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara berpendapatan tinggi (high-income country). Dalam upaya mewujudkan target ambisius ini, kekuatan gabungan antara pemerintah dan sektor swasta terus didorong agar swasta dapat menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional.
McKinsey Global Institute, yang merilis laporan bertajuk "The Enterprising Archipelago: Propelling Indonesia's Productivity". Titik pandang utama dari laporan tersebut adalah keharusan Indonesia untuk melakukan lompatan besar dalam produktivitas dan skala perusahaan guna mencegah jebakan kelas menengah (middle-income trap).
Managing Partner McKinsey & Company Indonesia, Khoon Tee Tan, yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa laporan tersebut menyoroti peta jalan bagaimana Indonesia bisa beralih menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045.
"Untuk mencapai target tersebut, Indonesia perlu mencatatkan pertumbuhan ekonomi setidaknya sebesar 5,4% per tahun selama 20 tahun berturut-turut," jelas Khoon Tee Tan.
Menurutnya, pencapaian ini bukanlah hal yang mustahil karena historisnya sudah ada negara-negara lain yang terbukti berhasil mencapai status berpendapatan tinggi dengan pola serupa. Akan tetapi, syarat mutlak bagi Indonesia saat ini adalah harus mampu menaikkan tingkat produktivitas secara signifikan, yakni hingga 1,6 kali lipat atau hampir dua kali lipat dari posisi saat ini.
Untuk merealisasikan peningkatan produktivitas tersebut, Khoon Tee Tan menegaskan bahwa peran dan transformasi dunia usaha menjadi sangat esensial. Hal ini berkaitan erat dengan urgensi UMKM untuk segera "naik kelas".
"Perusahaan berskala menengah dan besar perlu bertumbuh sebanyak tiga kali lipat dari jumlah yang ada hari ini. Pada hari ini, jumlahnya sekitar 90.000 perusahaan menengah dan besar. Angka ini perlu naik menjadi hampir 300.000 perusahaan di Indonesia," papar Khoon.
Lebih jauh, Khoon Tee Tan menjabarkan bahwa selain pertumbuhan jumlah badan usaha, Indonesia juga perlu meningkatkan aset pekerja non-pertanian sebanyak tiga kali lipat. Apabila target lompatan besar dunia usaha ini terwujud, diharapkan komposisi penyerapan tenaga kerja akan berubah drastis dan lebih berkualitas.
"Dengan naiknya skala perusahaan, tenaga kerja yang diserap dalam sektor menengah dan besar dapat meningkat, dari yang saat ini hanya 23% menjadi 50% dari total tenaga kerja kita. Ini merupakan satu lonjakan yang cukup besar dan menarik buat Indonesia ke depan," pungkas Khoon.[SB.101/R]





0 Komentar