Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Lima Modal Utama Ekosistem Usaha Agar Perusahaan Indonesia Sukses "Naik Kelas" Menuju 2045


 SARIBERITA.ID| Dalam upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 dan menjadi negara berpendapatan tinggi (high-income country), penciptaan ekosistem usaha yang kondusif menjadi syarat mutlak. Ekosistem ini ditujukan untuk menopang perusahaan-perusahaan berskala mikro dan kecil agar terus bertumbuh dan "naik kelas" menjadi perusahaan skala menengah dan besar.

Berdasarkan kajian dari McKinsey & Company, postur tenaga kerja dan skala usaha di Indonesia saat ini masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya maupun negara maju.

Managing Partner McKinsey & Company Indonesia, Khoon Tee Tan (Pak Kun), memaparkan bahwa struktur tenaga kerja di Indonesia saat ini sangat didominasi oleh sektor yang produktivitasnya cenderung rendah.

"Saat ini, hampir 80 persen dari total tenaga kerja di Indonesia bekerja di segmen usaha mikro dan kecil. Di segmen ini, produktivitasnya cenderung lebih rendah berbanding dengan perusahaan berskala menengah dan besar," ungkap Khoon Tee Tan.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan negara maju seperti Portugal, di mana 50 persen dari tenaga kerjanya sudah diserap oleh perusahaan skala menengah dan besar yang terbukti memiliki produktivitas jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, agar Indonesia bisa mencapai status negara berpendapatan tinggi, perbanyakan jumlah perusahaan skala menengah dan besar melalui proses "naik kelas" adalah sebuah keharusan.

Untuk mewujudkan ekosistem yang menopang transisi tersebut, Khoon Tee Tan menyebutkan ada lima jenis modal (capital) utama yang saling melengkapi dan harus dipenuhi oleh Indonesia, yaitu,Modal ini adalah yang paling memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan. Diperlukan peningkatan penanaman modal (capex) hingga hampir tiga kali lipat di seluruh segmen usaha, mulai dari mikro hingga besar. Namun, penanaman modal ini hanya akan terjadi jika ekosistem usahanya mendukung, Selain uang, dunia usaha membutuhkan tenaga kerja yang terampil (skilled labor). Ketersediaan SDM yang mumpuni sangat dibutuhkan untuk mengisi lapangan kerja di perusahaan yang sedang berkembang, Modal institusional atau kelembagaan sangat penting untuk meringankan beban regulasi dan formalisasi bagi perusahaan-perusahaan yang saat ini masih berstatus informal. Modal ini juga berfungsi sebagai insentif agar perusahaan informal mau melegalkan usahanya dan terus berkembang,Di tengah kondisi ekonomi global yang sangat kompetitif, arus modal akan selalu melihat negara mana yang memiliki efisiensi logistik tertinggi dan kelengkapan infrastruktur digital yang memadai,Modal terakhir yang tidak kalah penting adalah semangat kewirausahaan itu sendiri. Semangat wirausaha di dalam sebuah ekonomi sangat menentukan dorongan untuk mengembangkan bisnis, menciptakan inovasi baru, serta mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

"Kelima modal ini saling melengkapi untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk naik kelas," pungkas Khoon Tee Tan.

Pemenuhan kelima modal ini diharapkan dapat menjadi lompatan penentu bagi perekonomian nasional demi menghindari jebakan kelas menengah (middle-income trap) dan mengamankan langkah menuju Indonesia Emas 2045.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰