Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Strategi Cetak Pengusaha Baru: APINDO dan McKinsey Tekankan Pentingnya Ekosistem Bisnis dan Lahirnya "Champion" Usaha

 


SARIBERITA.ID| Upaya mencetak wirausaha tangguh atau entrepreneurial capital tidak lagi cukup hanya bermodalkan keberanian atau tekad semata. Diperlukan ekosistem bisnis yang komprehensif, mulai dari regulasi yang memadai, pendanaan yang mudah, hingga pemanfaatan sektor strategis, untuk mengakselerasi pertumbuhan jumlah pengusaha di Indonesia.

Perwakilan McKinsey & Company, Kun, memaparkan bahwa langkah utama untuk merealisasikan modal wirausaha di Tanah Air adalah dengan memetakan potensi perusahaan di semua skala—baik kecil, menengah, maupun besar. Perusahaan-perusahaan ini harus memiliki potensi pasar di tengah kondisi ekonomi global dan lokal, serta dibekali standar sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

"Dari situ, perlu ada program pembinaan agar mereka menjadi bagian dari ekosistem usaha. Tidak hanya disuntik modal keuangan, tetapi juga diberikan keringanan dari sisi kelembagaan atau institusional. Kita perlu membangun champion-champion usaha dari Indonesia, yang dulunya skala kecil menjadi menengah, dan dari menengah menjadi besar, terutama di sektor-sektor strategis," jelas Kun.

Kun mencontohkan ekosistem otomotif dan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) sebagai salah satu sektor dengan keunggulan kompetitif. Kekayaan nikel Indonesia dapat dimaksimalkan untuk industrialisasi baterai hingga pembuatan mobil listrik. Ia meyakini, jika sektor strategis semacam ini bisa dikembangkan dan mampu menarik modal asing, pertumbuhan wirausaha di Indonesia akan terakselerasi dengan pesat.

Sementara itu, Ketua Umum APINDO, Sinta Kamdani, menekankan bahwa jiwa pemberani orang Indonesia sejak zaman dahulu saja tidak cukup untuk menjadi pengusaha sukses saat ini. Kehadiran ekosistem pendukung mutlak diperlukan. Sinta merinci setidaknya lima kunci utama untuk memperkuat ekosistem usaha tersebut,Sinta menegaskan bahwa proses deregulasi dan penghapusan hambatan perizinan (debottlenecking) sangat mendesak. "Ini bukan hanya masalah bagi perusahaan besar. UMKM pun sangat terdampak, misalnya terkait kerumitan isu sertifikasi halal. Pemerintah harus hadir memperbaiki regulasi ini agar UMKM bisa terbantu," tegasnya, APINDO secara aktif memfasilitasi kemitraan (matchmaking) tidak hanya antar-perusahaan lokal, tetapi juga asing-lokal. Sinta mencatat bahwa saat ini banyak perusahaan menengah dari luar negeri yang bersedia masuk dengan membawa teknologi serta akses pendanaan. Kemitraan ini akan membuka pasar baru yang jauh lebih luas bagi pengusaha Tanah Air, Menurut Sinta, produktivitas merupakan kunci utama bagi Indonesia. Namun, kualitas SDM ini sangat terhambat oleh fondasi pendidikan, di mana masih ada sekitar 38 persen angkatan kerja yang hanya berpendidikan dasar. Ia mendorong pemerintah agar terus memperluas akses pendidikan yang memadai dan menanamkan keterampilan kewirausahaan (entrepreneurial skill) sejak dini, Terkait pembiayaan, Sinta menyoroti pentingnya akses dan penekanan ongkos pendanaan (cost of funding). Mengingat kapasitas pendanaan perbankan nasional masih terbatas, beragam jenis pembiayaan non-bank (alternatif) juga harus mulai menjadi perhatian khusus, Ekosistem yang tangguh juga membutuhkan dukungan penuh dari sarana infrastruktur serta konektivitas digital yang merata.

Meski jalan menuju ekosistem yang ideal masih panjang, McKinsey memandang optimis target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi (high income economy) pada tahun 2045.

"Kami cukup yakin, jika Indonesia mencari The Indonesian Way—yakni belajar dari proses negara-negara lain, namun tetap mencari jalannya sendiri—maka menjadi high income economy di 2045 adalah sesuatu yang sangat memungkinkan terjadi," pungkas Kun menutup diskusi.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰