Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Soroti Lemahnya Literasi Sejarah Nasional, Seniman Jay Subyakto Dorong Kemandirian Budaya dan Pengarsipan Bangsa


 SARIBERITA.ID - Seniman dan Sutradara Nasional, Jay Subyakto, menyoroti urgensi restorasi budaya, penguatan sistem pengarsipan sejarah, serta pentingnya menumbuhkan kemandirian bangsa agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar konsumen bagi negara lain. Pandangan strategis tersebut disampaikannya sebagai refleksi atas perjalanan kekayaan alam dan sejarah peradaban Indonesia yang kerap terlupakan

Melalui karya film dokumenternya yang bertajuk Banda: The Dark Forgotten Trail, Jay Subyakto mengkritisi ironi sejarah kebangsaan. Ia memaparkan bahwa sejak era perburuan rempah seperti pala hingga komoditas modern seperti minyak bumi dan kelapa sawit, kekayaan Indonesia selalu menjadi incaran negara-negara global

"Banda Neira itu salah satu pulau yang direbut oleh bangsa Portugis, Inggris, dan Belanda Hebatnya Indonesia dari zaman dulu diperebutkan seluruh bangsa sampai hari ini, tapi ironisnya kita tidak pernah semakmur bangsa lain yang justru tidak punya kekayaan hasil bumi seperti kita," tegas Seniman dan Sutradara Nasional, Jay Subyakto

Untuk mengatasi ketertinggalan peradaban tersebut, Jay mendorong adanya restorasi pola pikir melalui konsep "dendam positif" terhadap negara-negara penjajah Ia mencontohkan langkah negara Tiongkok dan Korea Selatan yang mampu menjadikan luka sejarah pendudukan bangsa asing sebagai motivasi untuk memacu diri menjadi negara yang jauh lebih unggul

"Sayangnya bangsa kita sekarang tidak punya tujuan. Padahal harusnya itu dijadikan pemicu kita untuk lebih hebat dari mereka berguna bagi orang banyak, jadi kita harus jadi bangsa penemu, jangan hanya menjadi konsumen," papar Jay Subyakto[cite: 

Lebih lanjut, ia menyoroti kelemahan fundamental bangsa Indonesia dalam hal literasi dan sistem pengarsipan (archiving)[cite:. Jay mengungkapkan bahwa minimnya arsip nasional di berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, musik, hingga olahraga, sangat merugikan bangsa Indonesia

"Pengarsipan di Indonesia itu sangat kurang. Saya pernah dengar prestasi (pebulutangkis) Rudi Hartono juara tujuh kali berturut-turut itu tidak ada videonya (di Indonesia), tapi di Tiongkok justru ada. Makanya Tiongkok dulu sangat mempelajari bulu tangkis dari pemain Indonesia, sementara kita tidak punya arsip tentang itu," jelasnya

Mengakhiri pandangannya, Jay Subyakto menekankan bahwa perbaikan sistem pendidikan dan pengarsipan sejarah harus segera diarusutamakan. Pemahaman budaya dan sejarah yang kuat diyakini menjadi rujukan utama bagi bangsa Indonesia untuk dapat tampil mandiri, tangguh, dan disegani di kancah pergaulan internasiona[SB.104/Pebri]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰