SARIBERITA.ID, FLORES – Sempat terhenti akibat guncangan gempa bumi yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), denyut nadi pendidikan kini mulai berdetak kembali. Meski di tengah keterbatasan fasilitas dan ruang kelas yang terdampak, para siswa dan tenaga pendidik berupaya keras mengembalikan rutinitas belajar mengajar di sekolah.
Berdasarkan pemaparan informasi dari tayangan Metro TV, situasi pendidikan pascagempa menghadapi tantangan yang cukup esensial. Tercatat sebanyak 141.207 siswa terdampak dan proses belajarnya sempat terhenti secara total, dengan 665 bangunan sekolah mengalami kerusakan yang bervariasi. Dampak ini memaksa ribuan warga sekolah untuk mengungsi ke tempat aman, sementara 1.221 sekolah lainnya terpaksa masih meliburkan siswanya sembari menunggu kesiapan sarana fasilitas yang lebih memadai.
Namun, di tengah segala keterbatasan tersebut, semangat untuk menuntut ilmu pantang padam. Beberapa satuan pendidikan kini sudah mulai kembali beroperasi, salah satunya adalah SMP Negeri 2 Ende. Setelah sebelumnya harus menjalani proses pembelajaran dari rumah akibat guncangan gempa, saat ini para siswa sudah kembali menjalani kegiatan belajar di lingkungan sekolah. Untuk menyiasati kondisi pascagempa sekaligus menyikapi keterbatasan jumlah ruang kelas, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergilir (shifting) agar kegiatan akademis dapat tetap berjalan dengan kondusif.
Proses pemulihan pendidikan di NTT nyatanya tidak hanya diarahkan pada perbaikan prasarana fisik sekolah semata, melainkan juga berfokus pada kondisi psikologis dan trauma healing para siswa pascabencana. Di sisi lain, tercatat sebanyak 785 sekolah telah mengusulkan pengadaan dan pembangunan Ruang Kelas Darurat (RKD) sebagai langkah mendesak agar proses belajar tidak dibiarkan terputus terlalu lama.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti bahwa penanganan pendidikan pascabencana ini sangat membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak.
"Bencana ini mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Partisipasi semesta bukan sekadar slogan, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata," ungkap Abdul Mu'ti dalam kutipannya. Upaya pemulihan terus dikebut oleh kementerian dan relawan untuk memastikan para siswa yang terdampak dapat segera kembali belajar dengan aman, nyaman, dan menerima dukungan moril yang mereka butuhkan.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar