Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Presiden Prabowo Tawarkan Industrialisasi Bersama di Forum BRICS, Optimalkan Potensi Besar Ekonomi 'Global South'

 


SARIBERITA.ID - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memaparkan besarnya potensi yang dimiliki oleh negara-negara berkembang anggota BRICS dalam menopang sekaligus mengendalikan arah ekonomi dunia masa depan. Tawaran strategis ini disampaikannya secara langsung di hadapan Perdana Menteri India, Narendra Modi, beserta seluruh pemimpin negara delegasi dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti empat pilar utama yang menjadi landasan pertemuan tersebut, yakni ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Namun, ia menekankan bahwa keempat ide tersebut harus mengabdi pada satu tujuan utama: membangun ekonomi yang lebih kuat, lebih adil, dan mampu memberikan kesejahteraan nyata bagi rakyat.

Guna mewujudkan kesejahteraan tersebut, Kepala Negara mendorong negara-negara BRICS untuk mampu mengubah kerentanan menjadi peluang, serta kelemahan menjadi kekuatan. Ia mengambil contoh kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api (Ring of Fire), yang membuat warganya harus berhadapan dengan ancaman naiknya permukaan laut, cuaca ekstrem, dan letusan gunung berapi setiap harinya.

"Namun, tanah dan laut kita juga menyimpan banyak hal yang akan menjadi fondasi masa depan; mineral kritis, logam tanah jarang (rare earth), sumber daya terbarukan untuk teknologi tinggi, serta hutan yang menjadi paru-paru dunia," tegas Presiden Prabowo Subianto.

Presiden menilai, kekuatan sumber daya tersebut sesungguhnya tidak hanya dimiliki Indonesia, melainkan tersebar secara kolektif di seluruh negara anggota BRICS. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa BRICS memiliki segala prasyarat materiil untuk membangun "abad hijau" (green century) ke depan.

"Ketika kita mengatasi tantangan-tantangan ini secara kolektif, kita menyatukan kumpulan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar yang sangat besar. Oleh karena itu, izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita lakukan industrialisasi bersama dan mari kita optimalkan sumber daya serta kapasitas yang kita miliki bersama," seru Presiden Prabowo.

Selain memaparkan visi industrialisasi, Presiden Prabowo juga membawa kabar baik mengenai ketahanan pangan nasional. Di hadapan para pemimpin dunia, ia menegaskan transformasi radikal Indonesia di sektor pertanian.

"Selama bertahun-tahun, Indonesia adalah importir gandum, beras, dan jagung terbesar. Namun kini, kita telah menjadi eksportir dan kita akan mampu meningkatkan dukungan (pangan) untuk seluruh dunia," jelasnya.

Menjelang akhir pidatonya, Kepala Negara juga menyinggung tenggat waktu Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang akan berakhir pada tahun 2030. Ia mengingatkan bahwa agenda tersebut bukan sekadar soal pencapaian tenggat waktu, melainkan tentang upaya mendekatkan negara-negara berkembang pada kemakmuran yang menjadi hak mereka.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa BRICS harus menjadi wadah utama untuk menyatukan dan memperkuat suara Global South (negara-negara Selatan), tidak hanya untuk mempercepat implementasi SDGs, tetapi juga untuk merumuskan tata kelola dan tatanan dunia baru setelah tahun 2030.[SB.104/Pebri]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰