SARIBERITA.ID - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan kegeramannya terhadap ulah sejumlah korporasi yang diduga kuat menjadi aktor intelektual di balik bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kecurigaan ini semakin menguat setelah adanya laporan temuan lahan bekas kebakaran yang dalam waktu sangat singkat langsung disulap menjadi area perkebunan kelapa sawit baru.
Dalam rapat terbatas penanganan bencana awal pekan ini, Presiden Prabowo mendesak aparat untuk mengusut tuntas dan menyerahkan daftar perusahaan yang terindikasi bermain di balik Karhutla.
"Habis kebakaran langsung jadi lahan perkebunan dalam waktu yang sangat singkat. Jadi ini benar-benar kesengajaan. Tolong diselidiki terus dan saya minta segera nama-nama korporasi itu sampai ke saya," tegas Presiden Prabowo Subianto.
Menindaklanjuti instruksi tersebut, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bergerak cepat melakukan penegakan hukum. Perwakilan Polri mengonfirmasi bahwa dari 200 laporan kepolisian yang masuk, pihaknya saat ini telah menetapkan 138 orang sebagai tersangka, yang diduga telah menghanguskan lahan seluas 8.600 hektar.
"Kami sudah menetapkan 138 tersangka. Ada 119 karena kesengajaan, dan 19 karena lalai. Jumlah ini kemungkinan masih bisa bertambah," papar Perwakilan Polri. Selain mengusut pelaku perorangan, Polri kini juga tengah menangani secara intensif delapan korporasi yang diduga kuat memiliki keterkaitan dengan bencana Karhutla. Polri menegaskan akan menerapkan pasal berlapis dari Undang-Undang Kehutanan, Perkebunan, serta Perlindungan Lingkungan Hidup.
Sikap tegas juga ditunjukkan oleh pihak Kementerian Kehutanan yang langsung melakukan penyegelan terhadap lahan bekas Karhutla yang kedapatan mulai ditanami bibit sawit. Perwakilan Kementerian Kehutanan memberikan peringatan keras guna memutus mata rantai modus lama pembukaan lahan.
"Kalau seandainya ada kesengajaan membakar lahan dan ditemukan secara objektif, maka nanti akan ada larangan untuk menanam sawit. Ini sekaligus biar kapok yang lain untuk melakukan cara-cara lama membakar lahan," tegas Perwakilan Kementerian Kehutanan.
Di sisi lain, meluasnya Karhutla telah memicu krisis kesehatan dan pendidikan di berbagai daerah. Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Dinas Kesehatan setempat mencatat lonjakan tajam penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang mengungkapkan bahwa tingginya Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sangat memengaruhi jumlah pasien. "Pada minggu ke-33 ada 714 kasus, masuk ke minggu ke-34 naik menjadi 804, dan saat ini yang paling tinggi sudah menembus 1.050 kasus," jelasnya. Sebagai langkah mitigasi darurat, Dinas Kesehatan telah menyediakan Rumah Oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas parah.
Sementara itu, tebalnya kabut asap di Pekanbaru, Riau, memaksa pemerintah setempat menerapkan kebijakan belajar dari rumah bagi siswa jenjang TK hingga SMP.
"Karena kondisi cuaca asap kelihatan semakin tebal, kita melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring. Guru memberikan tugas-tugas melalui Zoom atau melalui grup kelas masing-masing," tutur salah seorang Guru SD Negeri 29 Pekanbaru.
Dampak buruk Karhutla tidak berhenti di situ. Di Bangka, kuatnya embusan angin membuat api menjalar tak terkendali hingga menghanguskan 30 hektar pemukiman warga. Di Sungai Barito, Kalimantan Tengah, jarak pandang yang minim nyaris melumpuhkan jalur transportasi perairan yang menjadi andalan warga. Ironisnya, di tengah kepungan bencana, para relawan pemadam api di Sampit masih harus terkendala oleh pasokan BBM untuk mesin pompa air yang harus dibeli menggunakan dana patungan pribadi alih-alih bantuan dari pemerintah.[SB.104/Pebri]




0 Komentar