SARIBERITA.ID – Operasi pencarian dan penyelamatan terus digencarkan untuk menemukan sebuah kapal speedboat yang mengangkut lima jurnalis dan tiga awak kapal yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Rombongan tersebut diketahui hilang kontak saat sedang dalam perjalanan untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, rombongan delapan orang ini berangkat dari Dermaga Pagedongan, Pandeglang, Banten, pada Selasa (8/9/2026) siang, sekitar pukul 14.00 WIB. Estimasi perjalanan menuju Anak Krakatau diperkirakan memakan waktu dua jam, yang seharusnya tiba pada pukul 16.00 WIB.
Kedelapan penumpang tersebut terdiri dari tiga awak kapal, yakni Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), dan Herianto (pemandu/guide). Sementara lima jurnalis yang hingga kini masih dinyatakan hilang adalah Bagus Koirunas, Ari Basuki (Antara), Yudis Ainius (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (Jurnalis Freelance).
Sebelumnya, pihak pemilik speedboat mengonfirmasi bahwa armada yang digunakan sangat layak berlayar, lengkap dengan dokumen perizinan, GPS portable, dan jaket pelampung (life jacket) yang memadai bagi seluruh penumpang.
Catatan jejak komunikasi terakhir menunjukkan adanya percakapan hingga pukul 14.42 WIB. Salah satu jurnalis, Bagus Koirunas, terakhir kali berkomunikasi dan mengirimkan foto kepada rekannya, Abay, sesama jurnalis Antara yang saat itu berada di Pulau Sebesi. Bagus juga sempat mengirimkan dokumentasi posisinya kepada sang istri. Namun, pada pukul 15.04 WIB, atau berselang 22 menit kemudian, kontak terputus sepenuhnya.
Menindaklanjuti laporan kehilangan tersebut, Basarnas dan tim gabungan merespons cepat dengan menyisir kawasan Gunung Anak Krakatau, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Pada hari berikutnya (9/9/2026), operasi SAR diperluas secara masif dengan mengerahkan armada laut gabungan, di antaranya KAL Anyer, KN SAR Tetuka, KP Sanjaya, KRI Kerambit, KRI Leuser, hingga armada RIB.
Deden Ridwansyah, Kepala Kantor SAR Lampung, memaparkan langsung mengenai operasi gabungan ini. Pihaknya menyatakan telah menerjunkan dua tim beserta relawan untuk memaksimalkan penyisiran. Namun, hingga Rabu sore, hasil pencarian masih dinyatakan nihil.
"Salah satu kendala pencarian adalah menentukan titik koordinat kapal para jurnalis yang hilang kontak dan juga aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih sangat fluktuatif," jelas Deden Ridwansyah.
Ia menambahkan bahwa timnya telah melakukan penyisiran ke berbagai titik strategis laut. "Hasil tidak ditemukan tanda-tanda korban, sehingga pencarian kami arahkan menuju ke sekitar perairan Sangiang," terangnya. Selain itu, armada lain seperti RIB 03 juga telah digerakkan menuju perairan Legundi, Pulau Sebesi bagian utara, hingga perairan Pulau Satum, namun belum membuahkan hasil.
Di sisi lain, keluarga korban terus menanti dengan penuh kecemasan sekaligus ketegaran. Ade, Kerabat dari Yudis Ainius (Jurnalis iNews), menyampaikan bahwa pihak keluarga saat ini sedang menuju posko utama di Banten untuk memantau langsung perkembangan evakuasi dan identifikasi.
Menurut Ade, komunikasi terakhir Yudis dengan istrinya terjadi dengan lancar pada pukul 14.30 WIB. Namun, menjelang pukul 15.00 WIB, saat sang istri mengirimkan foto kegiatan anak-anak mereka, pesan tersebut tidak lagi terkirim (lost contact).
"Kami berharap Yudis dan teman-temannya ini bisa kembali ke rumah dengan selamat. Tapi apapun hasilnya nanti, kami tahu risiko pekerjaan jurnalis itu seperti ini. Hasilnya negatif pun kami sudah siap," ungkap Ade dengan tegar mewakili pihak keluarga. Ade juga menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam atas kerja keras seluruh tim SAR gabungan, Basarnas, dan TNI AL yang telah mengerahkan segala upaya dalam mencari para korban.
Pencarian akan terus difokuskan, mengikuti pola arus laut yang diperkirakan mengarah ke sisi utara, menjauhi radius langsung erupsi Gunung Anak Krakatau.
[SB.103/Riskph]




0 Komentar