SARIBERITA.ID – Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak serangan 11 September (9/11) yang memicu Amerika Serikat meluncurkan kampanye militer global bertajuk "War on Terror". Namun, dampak panjang dari kampanye tersebut hingga kini masih dirasakan dan dikenang pahit oleh sejumlah keluarga korban di Afghanistan, yang hidupnya berubah drastis akibat operasi militer.
Salah satu tragedi yang paling menyisakan duka adalah serangan udara mematikan di Provinsi Kunar pada tahun 2013 silam. Insiden yang seharusnya menyasar kelompok teroris tersebut justru menewaskan banyak warga sipil yang tidak bersalah.
Kini, para keluarga korban di Kunar kembali bersuara dan menyerukan keadilan atas tragedi yang telah merenggut nyawa orang-orang terkasih mereka.
Dalam sebuah kesaksian emosional, salah seorang Warga Sipil Afghanistan yang juga merupakan keluarga korban, menceritakan kembali kengerian malam penyerangan tersebut. Menurutnya, serangan itu terjadi secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda atau peringatan sebelumnya.
"Kejadian itu terjadi pada malam hari, sekitar pukul 09.00 malam. Anak-anak dan orang tua sudah tertidur di rumah mereka. Lalu, pemboman itu terjadi," kenangnya dengan raut wajah penuh duka.
Ia memaparkan bahwa dalam satu malam yang nahas tersebut, sekitar 15 orang dinyatakan meninggal dunia, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Keluarga korban yang selamat pun harus menghadapi kenyataan pahit, kehilangan tempat tinggal yang hancur lebur akibat gempuran bom udara.
Selama berminggu-minggu pasca-serangan, warga setempat masih harus mencari jenazah dan bagian tubuh keluarga mereka di balik reruntuhan rumah. Tidak sedikit pula dari warga yang harus menderita luka fisik seumur hidup, seperti yang ditunjukkan oleh seorang pemuda korban serangan yang kini harus menggunakan kaki palsu (prosthetic) untuk dapat berjalan.
Kesedihan mendalam dan trauma yang berkepanjangan masih menyelimuti keluarga korban. Setiap kali mengingat atau ditanya tentang malam nahas tersebut, air mata tak terbendung dari wajah mereka.
"Kami tidak tahu apa salah dan dosa kami, dan kami tidak mendapatkan jawaban apa pun, lalu mengapa mereka melakukan ini kepada kami?" keluh salah satu keluarga korban lainnya yang terus menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban dari pemerintah Amerika Serikat maupun pihak internasional terkait operasi militer tersebut.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, waktu 25 tahun belum cukup untuk menghapus trauma dan memberikan keadilan bagi puluhan nyawa warga sipil yang terenggut di Kunar, Afghanistan.
[SB.103/Riskph]




0 Komentar