Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

MENJAGA LITERASI DI TENGAH PUING GEMPA FLORES: Gedung Perpustakaan Nagekeo Runtuh, Semangat Belajar Tak Padam


SARIBERITA.ID
— Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus lalu tidak hanya merusak rumah warga dan fasilitas umum. Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), turut menjadi korban dan hancur lebur akibat guncangan tersebut. Meski demikian, semangat anak-anak di wilayah tersebut untuk terus membaca dan belajar dipastikan tidak ikut runtuh.

Kondisi Perpustakaan Daerah Nagekeo pascagempa tampak sangat memprihatinkan. Bangunan dua lantai yang selama ini menjadi pusat literasi sekaligus tempat favorit anak-anak untuk berkumpul, kini tak lagi bisa digunakan. Berbagai fasilitas penting seperti ruang baca, ruang bimbingan belajar, hingga sarana edukasi lainnya dilaporkan mengalami kerusakan parah.

Akibat tertimpa reruntuhan, banyak inventaris perpustakaan yang rusak. Sebagian koleksi buku dan alat permainan edukatif tidak sempat diselamatkan.

"Beberapa buku tidak bisa diselamatkan, namun yang lain masih bisa. Alat-alat permainan tidak bisa diselamatkan, sebagian perangkat multimedia berhasil diamankan. Kami sangat merasa kehilangan karena biasanya tempat ini sering menjadi lokasi anak-anak berkumpul," ungkap salah satu Pengelola Perpustakaan Daerah Nagekeo saat meninjau lokasi reruntuhan.

Walaupun dihadapkan pada situasi yang sulit, runtuhnya gedung tidak lantas membuat kegiatan literasi di Nagekeo terhenti. Untuk memastikan operasional tetap berjalan, pelayanan administrasi perpustakaan untuk sementara waktu dialihkan ke sebuah tenda darurat yang didirikan di sekitar lokasi.

Selain itu, pihak pengelola juga harus berinovasi merombak strategi pelayanan literasi mereka agar masyarakat tetap mendapatkan akses bahan bacaan.

"Saat ini untuk pelayanan administrasi kami menggunakan tenda darurat dulu. Sementara untuk literasi, karena target indikator kami adalah tingkat kunjungan, kami terpaksa merubah pola. Pola yang baru ini adalah dengan melakukan kunjungan jemput bola ke rumah-rumah, ke tingkat RT, atau langsung menyambangi sekolah-sekolah," jelas pengelola tersebut.

Di antara puing-puing bangunan yang tersisa, upaya menjaga literasi terus dihidupkan. Bangunan fisik boleh saja runtuh dan jumlah buku mungkin berkurang akibat bencana, namun mimpi serta harapan anak-anak di Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan pendidikan yang layak tidak boleh ikut hilang terwujud dalam semangat para pegiat literasi di sana.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰