Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Mengupas Tuntas Alasan Purbaya Diganti Suahasil Nazara: Tekanan Daerah hingga Isu Defisit Fiskal


 SARIBERITA.ID| Langkah Presiden mengganti Purbaya dari posisi Menteri Keuangan dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai penggantinya menuai berbagai sorotan. Meski Purbaya mencatatkan prestasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi selama menjabat lebih dari satu tahun, desakan dari pemerintah daerah disinyalir menjadi salah satu faktor kuat di balik pencopotannya.

Hal ini diungkapkan oleh Mantan Menteri Keuangan Era Presiden Soeharto, Fuad Bawazier,  Fuad membeberkan bahwa ada faktor ketidakpuasan dari daerah yang membuat posisi Purbaya goyah.

"Ada juga negatifnya yang diteriakkan oleh Ketua Apkasi (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia), Bursa Zarnubi. Tiga hari sebelum diganti, dia teriak keras mendesak agar Pak Purbaya dicopot," ungkap Fuad.

Menurut Fuad, alasan utama kemarahan daerah tersebut bermuara pada tersendatnya pergerakan keuangan di daerah akibat banyaknya pemotongan pada Transfer ke Daerah (TKD). Suara keras dari Ketua Apkasi yang membawa aspirasi bupati dari berbagai daerah ini diduga kuat mendorong Presiden untuk segera melakukan pergantian demi menghindari kegaduhan politik yang lebih luas.

Sebagai gantinya, penunjukan Suahasil Nazara dinilai sebagai langkah aman dan strategis. Fuad menilai Suahasil adalah sosok yang kredibel dan memiliki rekam jejak panjang di Kementerian Keuangan, mulai dari pengalamannya di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) hingga menjadi Wakil Menteri Keuangan di era Sri Mulyani.

Di tengah hiruk-pikuk isu nasional, kehadiran Suahasil diharapkan mampu menjaga wibawa institusi. "Menteri Keuangan memang tradisinya bicaranya secukupnya, kelihatannya serius, dan penampilan publiknya harus meyakinkan. Apalagi di tengah hiruk-pikuk negeri ini," tambah Fuad.

Dalam diskusi tersebut, pembawa acara juga menyoroti profil Suahasil Nazara yang dikenal sangat disiplin terhadap fiskal. Hal ini memunculkan pertanyaan publik: apakah rekam jejak disiplin ini akan kontradiktif dengan visi Presiden Prabowo yang menargetkan pertumbuhan ekonomi ambisius sebesar 8 persen hingga 2029, yang mana sebelumnya dieksekusi secara out of the box dan berani oleh Purbaya?

Menjawab hal tersebut, Fuad Bawazier menegaskan bahwa seorang Menteri Keuangan saat ini dituntut harus bisa melakukan ekspansi ekonomi yang terukur.

"Presiden memang agak ekspansif, tapi tetap harus terkendali dan terukur. Intinya menjaga defisit di bawah 3 persen," tegas Fuad.

Lebih lanjut, Fuad mengingatkan bahwa posisi menteri adalah pembantu Presiden yang wajib menjalankan visi kepala negara, bukan membawa agenda pribadi maupun asing.

"Kalau dia tidak mau melakukan (visi Presiden), berarti membawa agenda dari lembaga lain atau luar negeri, ya bisa disikat atau dicopot. Tapi kalau menteri punya pertimbangan lain, sampaikan pertimbangan itu dengan jelas kepada Presiden. Saya rasa Presiden akan mengerti. Saya berharap dengan pengalamannya sebagai orang lama, Pak Suahasil bisa berjalan dengan baik," pungkas Fuad.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰