SARIBERITA.ID – Dampak kerusakan infrastruktur akibat peperangan yang berkepanjangan di Jalur Gaza kini memicu bencana lingkungan dan krisis kesehatan yang serius. Kolam Sheikh Radwan, yang dulunya difungsikan sebagai fasilitas penampungan air hujan, kini kondisinya berbalik 180 derajat dan berubah menjadi genangan limbah raksasa.
Berdasarkan laporan terkini, kerusakan parah terjadi pada stasiun pompa limbah di sekitar kawasan tersebut. Akibatnya, air limbah yang tercemar tidak hanya menggenangi Kolam Sheikh Radwan, tetapi juga tumpah ruah dan mengalir deras menuju lautan, bercampur dengan air laut dan mencemari pesisir pantai.
Juru Bicara Pemerintah Kota Gaza, Hosni Muhana, memberikan pernyataan resmi terkait krisis ini. Ia mengonfirmasi bahwa Kolam Sheikh Radwan saat ini tengah menghadapi kondisi darurat akibat hancurnya fasilitas penunjang.
"Kolam Sheikh Radwan saat ini berubah fungsi menjadi kolam penampungan limbah akibat kerusakan infrastruktur besar-besaran. Kapasitas pengaliran air telah menurun secara drastis setelah fasilitas dan pompa operasional mengalami kerusakan akibat serangan," jelas Hosni Muhana.
Lebih lanjut, Hosni merinci skala kerusakan yang diakibatkan oleh pasukan pendudukan. Sebanyak lebih dari 2.200 meter jaringan pembuangan limbah telah hancur, dan delapan unit pompa utama yang selama ini beroperasi juga mengalami kerusakan fatal. Pihak pemerintah kota hanya mampu mengoperasikan dua pompa yang tersisa, namun jumlah tersebut sangat tidak sebanding dengan volume limbah yang harus ditangani.
Kondisi ini tidak hanya memicu luapan limbah ke jalan-jalan dan area pemukiman, tetapi juga mengancam mencemari cadangan air tanah warga. Hosni menyebut ada sekitar 24.000 meter kubik limbah cair yang mengalir langsung ke arah pantai Gaza tanpa melalui proses pengolahan. Ia pun mendesak komunitas internasional untuk segera turun tangan menekan Israel agar membuka jalur perlintasan, sehingga pasokan peralatan untuk memperbaiki krisis ini bisa segera masuk ke Gaza.
Sementara itu, krisis pembuangan limbah ini juga membawa pukulan telak bagi para nelayan setempat. Halil Radi, seorang Nelayan di Gaza, memaparkan bahwa limbah mentah yang beracun tersebut sangat membahayakan mata pencaharian mereka.
"Air limbah yang mengalir ke laut adalah limbah mentah yang penuh racun. Ini berdampak sangat buruk terhadap laut dan langsung membunuh ekosistem yang ada," ungkap Halil Radi.
Menurutnya, pencemaran laut akibat limbah padat dan cair yang tidak diolah ini menghambat proses perkembangbiakan ikan secara drastis. Tingkat racun yang tinggi memaksa kawanan ikan bermigrasi menjauh dari perairan tersebut demi bertahan hidup, sehingga mematikan potensi tangkapan laut bagi para nelayan Gaza yang sudah berada dalam kondisi terhimpit.
Masyarakat setempat kini tidak hanya harus bertahan dari kondisi perang, namun juga harus berhadapan dengan bau tak sedap yang menyengat, serbuan serangga penyebar penyakit, serta ancaman krisis kesehatan masyarakat dan bencana ekologis yang nyata di depan mata.
[SB.103/Riskph]


.jpg)


0 Komentar