Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Karhutla di Berau Makin Mengkhawatirkan, Ancam Kawasan Rehabilitasi Orangutan


SARIBERITA.ID
Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terus menyebar di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kini tidak hanya mengancam permukiman warga dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai membayangi kawasan konservasi. Kawasan yang menjadi tempat perlindungan dan rehabilitasi satwa dilindungi, yakni orangutan, kini berada di bawah ancaman serius akibat kobaran api dan kepulan asap pekat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah lokasi rehabilitasi satwa berada tidak jauh dari titik api. Beberapa di antaranya adalah kawasan Longsam yang dikelola Conservation Action Network di Kampung Merasa (Kecamatan Kelay), Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA yang dikelola Centre for Orangutan Protection (COP) di Labanan (Kecamatan Teluk Bayur), serta klinik dan pusat karantina orangutan di Tasuk (Kecamatan Gunung Tabur).

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau BKSDA Kalimantan Timur, Yulian Saddano, menyatakan bahwa karhutla menjadi salah satu ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup orangutan di kawasan tersebut. Meski begitu, ia memastikan kondisi di lapangan saat ini masih dapat dikendalikan melalui peningkatan patroli dan kesiapsiagaan petugas.

"Kebakaran yang ada saat ini berjarak sekitar 300 hingga 500 meter dari batas kawasan. Untuk mengantisipasinya, teman-teman di lapangan melakukan patroli rutin pagi, siang, dan malam. Kalau ada kebakaran, tim tersebut langsung melakukan pemadaman," jelas Yulian Saddano.

Petugas gabungan bersama Manggala Agni terus melakukan pemantauan intensif di lapangan. Mereka bersiaga penuh memadamkan api yang terpantau terus bergerak dan berada di jarak 500 meter hingga 1 kilometer dari kawasan konservasi.

Selain ancaman jilatan api, kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Berau juga memicu kekhawatiran terhadap kesehatan satwa. Tim medis secara intensif memeriksa kondisi orangutan untuk memastikan satwa tidak mengalami gangguan pernapasan akibat memburuknya kualitas udara.

Dokter Hewan Centre for Orangutan Protection (COP), drh. Wardiman, menuturkan bahwa timnya terus memantau kesehatan satwa secara ketat, khususnya terhadap salah satu orangutan bernama Ambon.

"Di tengah kondisi karhutla ini, kita memantau secara bertahap kondisi kesehatan orangutan Ambon. Dampak dari karhutla itu sendiri, beberapa hari lalu kita sudah melihat ada abu sisa dedaunan terbakar yang sempat berterbangan sampai di dekat kandang Ambon. Pada malam-malam sebelumnya, api juga sempat berada di jarak kurang dari 1 kilometer dari kandangnya," ungkap drh. Wardiman.

Lebih lanjut, Wardiman menegaskan bahwa tim medis beserta staf rehabilitasi bersiaga penuh untuk menghadapi berbagai skenario darurat. "Untuk program pelatihan orangutan Ambon saat ini terlihat cukup kondusif karena kawasan hutan BORA Labanan terbilang masih cukup baik. Akan tetapi, di luar kawasan ini masih terdapat titik api di radius 500 meter sampai 1 kilometer. Hutan BORA Labanan ini cukup baik untuk Ambon, sehingga kawasan ini harus dijaga ketat dari ancaman karhutla," tambahnya.

Kondisi darurat karhutla terhadap kawasan konservasi ini juga mendapat sorotan dari pemerintah pusat. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad, dalam tinjauannya ke Berau pekan lalu telah menginstruksikan agar pengawasan terhadap kawasan rehabilitasi orangutan diperketat guna menjamin keamanan satwa dari paparan api dan asap.

Hingga saat ini, karhutla di Kabupaten Berau belum sepenuhnya mereda. Titik-titik api baru masih bermunculan di beberapa kecamatan, termasuk Kelay, Teluk Bayur, Sambaliung, Gunung Tabur, hingga wilayah sekitar Pulau Derawan. Di tengah pekatnya kabut asap dan hawa panas dari hutan yang terbakar, para petugas gabungan dan penjaga satwa tidak hanya berjuang melawan api, namun juga memastikan satwa-satwa endemik Kalimantan tersebut dapat bertahan hidup dengan sehat dan selamat.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital