SARIBERITA.ID| Bank Indonesia (BI) menilai kondisi likuiditas industri perbankan nasional saat ini masih terjaga dengan baik dan berada pada level yang aman. Kendati demikian, BI menyoroti bahwa distribusi likuiditas antarbank masih belum merata atau cenderung terfragmentasi.
Kondisi likuiditas perbankan ini dinilai menjadi fondasi yang sangat penting untuk memastikan kepercayaan nasabah tetap terjaga, sekaligus mempertahankan stabilitas sistem keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam Forum Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Metro TV bekerja sama dengan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) di Jakarta. Forum ini turut dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, serta Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu.
Destry menjelaskan, BI terus memantau likuiditas industri perbankan melalui berbagai indikator, salah satunya adalah rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK). Saat ini, rasio tersebut masih berada di atas ambang batas (threshold) 10 persen. Namun, BI memantau kondisi ini secara granular karena adanya distribusi likuiditas yang segmented.
"Kalau melihat alat likuid bank itu masih ada, cuman memang distribusinya tidak merata, ada segmented. Sehingga saat kita melihat analisa granular, ternyata banyak bank-bank yang menggunakan likuiditasnya itu bukan untuk intermediasi (penyaluran kredit), tapi mereka gunakan untuk investasi. Ditaruh di SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), ditaruh di SBN (Surat Berharga Negara). Terasa sekali khususnya pada SRBI," papar Destry dalam forum tersebut.
Selain memantau AL/DPK, bank sentral juga terus memonitor berbagai indikator lain secara ketat, seperti pergerakan suku bunga overnight (IndONIA) dan kondisi uang beredar (M0).
Sebagai langkah antisipasi dan menjaga stabilitas, BI terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta telah menyiapkan bantalan likuiditas bagi perbankan melalui instrumen repo (Repurchase Agreement) dan FX Swap. Dana cadangan ini dihimpun melalui operasi moneter.
"Bank Indonesia juga menyiapkan likuiditas dalam bentuk repo termasuk FX Swap. Jadi dana asing masuk kemudian dirupiahkan, itu (nilainya) sudah mencapai sekitar Rp920 hingga Rp930-an triliun. Artinya ada likuiditas yang kembali ke sistem," tambah Destry.
Lebih lanjut, Destry menegaskan bahwa dengan ketersediaan likuiditas yang mumpuni, bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) dipastikan tetap memiliki kapasitas dan siap berpartisipasi dalam pembiayaan berbagai program strategis pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis hingga dukungan untuk Koperasi Merah Putih.
Menurutnya, Pemerintah dan Bank Indonesia sama-sama memiliki peran krusial dalam menjaga likuiditas perbankan, meski dilakukan melalui pendekatan instrumen yang berbeda. Dengan likuiditas perbankan yang kokoh dan terjaga, industri perbankan diharapkan mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal dalam menggerakkan sektor riil, yang pada akhirnya akan memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional.[SB.101/R]




0 Komentar