SARIBERITA.ID – Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terus melanda kawasan Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kabut asap pekat yang ditimbulkan dari kebakaran ini menjadi permasalahan terbesar karena terus mengepung warga terdampak, bahkan hingga terasa pekat di area tengah kota.
Salah satu titik penyumbang kabut asap terparah berada di wilayah Sinar Kahayan yang merupakan salah satu titik kebakaran terbesar. Lokasi kebakaran lahan di area ini menjadi sangat krusial karena berjarak sangat dekat dengan area permukiman penduduk.
"Sebagian besar wilayah penyumbang kabut asap di Palangka Raya ini karena kebakaran lahan dan hutan itu terjadi di sekitar area permukiman warga. Jadi, jarak permukiman dengan titik kebakaran sangat dekat sekali," jelas Yohana Margareta saat memantau sisa-sisa asap di Sinar Kahayan.
Penanganan kebakaran di wilayah ini menghadapi kendala teknis yang cukup berat karena mayoritas lahan yang terbakar adalah karakteristik lahan gambut. Proses pemadaman membutuhkan beberapa tahapan dan tidak cukup hanya dengan menyiramkan air di permukaan daratan. Petugas pemadam kebakaran sering kali harus melakukan injeksi air hingga ke bawah permukaan gambut untuk memastikan bara api benar-benar mati.
Dibutuhkan volume air yang sangat besar untuk proses tersebut. Diperkirakan, untuk memadamkan 1 meter persegi lahan gambut dibutuhkan sekitar 16 hingga 24 liter air. Jika area yang terbakar mencapai luasan 10.000 meter persegi, maka dibutuhkan pasokan air antara 160.000 hingga 240.000 liter. Sementara itu, keterbatasan sumber air di lokasi kejadian dan luasnya medan menjadi hambatan utama bagi tim di lapangan.
Guna menangani kobaran api yang melalap lahan luas di tengah permukiman Sinar Kahayan tersebut, petugas setidaknya telah mengerahkan lima unit armada mobil pemadam kebakaran berukuran besar agar mampu menjangkau medan yang sulit.
Kondisi Karhutla di Palangka Raya memberikan dampak paparan asap yang berbeda jika dibandingkan dengan wilayah penyangga lainnya seperti Sampit. Yohana melaporkan bahwa warga tidak perlu masuk ke area hutan atau titik pemadaman untuk merasakan pekatnya asap. Hanya dengan berada di tengah kota Palangka Raya, kualitas udara sudah membuat mata pedih dan napas terasa sesak. Hal ini terjadi karena lahan yang terbakar secara geografis telah mengepung area tengah kota, di mana ruang gerak udara bersih sangat terbatas.
[SB.103/Riskph]




0 Komentar