SARIBERITA.ID - Insiden keracunan makanan yang menimpa sejumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah kembali menjadi sorotan evaluasi nasional. Berdasarkan penelusuran, akar permasalahan dari rentetan kasus keracunan tersebut bermuara pada buruknya manajemen operasional di tingkat fasilitas penyedia makanan.
Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari Badan Gizi Nasional (BGN), 80 hingga 90 persen penyebab keracunan tersebut murni karena ketidakpatuhan pengelola terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan secara ketat oleh BGN. Pelanggaran fatal itu meliputi kesalahan prosedur penerimaan barang, tata cara penyimpanan, abai terhadap aturan suhu penyajian, hingga pelanggaran batas waktu maksimal konsumsi makanan.
Bahtra mendesak agar tata kelola pengawasan tidak hanya tajam di tingkat pusat, tetapi harus diaplikasikan secara ketat hingga ke tingkat level paling bawah di setiap unit dapur.
"BGN kan sudah menetapkan standar, harus memang ada langkah-langkah yang cepat dan tegas bagi dapur-dapur yang tidak menerapkan standar SOP. Yang paling utama, Kepala SPPG-nya (Satuan Pelayanan Program Gizi) yang harus dimintai pertanggungjawaban di sana. Problem-problem yang dialami ini tidak boleh mendeligitimasi tujuan utama dari MBG untuk mencerdaskan dan menyehatkan anak bangsa," tegas Bahtra Banong.
Meninjau dari sudut pandang kesehatan, Ahli Gizi Masyarakat, Dr. Tan Shot Yen, menegaskan bahwa perbaikan rantai pasok bahan makanan dari hulu ke hilir tidak bisa ditawar lagi. Ia menyoroti fenomena minimnya simulasi dan pengawasan nyata di lapangan, hingga ditemukannya kasus SPPG yang menyimpan bahan makanan seperti tempe di dekat area toilet.
Dr. Tan menjelaskan secara medis bahwa kelalaian penanganan makanan, seperti jeda waktu yang terlalu lama antara pencairan bahan baku (seperti ikan atau daging) hingga proses memasak, sangat berisiko. Jika makanan berada pada rentang suhu kritis antara 5 hingga 60 derajat Celcius, hal tersebut akan memicu bakteri berkembang biak dengan sangat cepat.
"Perkembangbiakan bakteri itu memicu perubahan dari histidin menjadi histamin, yang menyebabkan gejala keracunan (food poisoning). Bahkan ada bakteri yang mengeluarkan neurotoksin atau racun yang menyerang saraf, serta enterotoksin yang menyerang saluran pencernaan," jelas Dr. Tan Shot Yen.
Selain isu suhu dan rantai pasok, Dr. Tan juga memperingatkan bahaya kontaminasi silang dari para penjamah makanan atau pekerja dapur. Ia menyoroti bahwa penggunaan sarung tangan plastik (glove) yang kerap dijadikan standar kebersihan justru sering disalahgunakan. Banyak pekerja yang tidak terbiasa menggunakan sarung tangan justru menjadikannya sebagai sarang kotoran dan sumber penularan penyakit ketika tidak ada pengawasan langsung.
Ke depannya, evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas kepala dapur dan disiplin tenaga kerja di tingkat SPPG mutlak diperlukan guna memastikan keamanan konsumsi jutaan penerima manfaat MBG.[SB.104/Pebri]




0 Komentar