SARIBERITA.ID, Jakarta - Profesi dokter forensik sering kali diselimuti stigma menyeramkan dan aura mistis karena berurusan langsung dengan jenazah setiap harinya. Namun, di balik dinginnya meja autopsi, tersimpan banyak kisah tak terduga yang jauh lebih mengusik nurani. Dalam sebuah sesi tanya jawab interaktif (Q&A) yang ramai diperbincangkan baru-baru ini, seorang pakar forensik secara blak-blakan membagikan pengalaman paling membuat merinding selama bertugas mengungkap penyebab kematian.
Alih-alih menceritakan penampakan makhluk gaib, realitas di ruang forensik justru menghadirkan kengerian dari sudut pandang yang berbeda. Pengalaman paling traumatis dan membekas ternyata berasal dari kondisi jenazah yang menjadi bukti bisu atas kekejaman yang bisa dilakukan oleh sesama manusia.
dr. Yudha Pratama, Sp.FM, selaku Dokter Spesialis Forensik dan Medikolegal, mengungkapkan fakta mengejutkan dari balik ruang kerjanya. "Masyarakat sering bertanya, 'Dok, pernah diganggu hantu tidak?'. Jujur saja, hal yang paling bikin merinding dan mengganggu pikiran saya bukanlah hal mistis, melainkan saat kami harus mengautopsi jenazah korban kekerasan, terutama anak-anak, yang pelakunya adalah orang terdekatnya sendiri. Melihat bagaimana tubuh yang seharusnya dijaga malah dirusak sedemikian rupa, jenazah itu seolah 'menjerit' dan bercerita lewat jejak luka yang ditinggalkan. Kengerian melihat kejahatan manusia itu jauh melebihi horor supranatural manapun," ungkapnya.
Lebih lanjut, dr. Yudha juga meluruskan berbagai mitos yang beredar di masyarakat mengenai jenazah yang sering dianggap berbau mistis. Ia menjelaskan bahwa fenomena seperti jenazah yang seolah mengeluarkan suara desahan, air mata, atau adanya sedikit pergerakan otot, sepenuhnya bisa dijelaskan secara medis dan sains. Hal tersebut merupakan proses alamiah dari pelepasan gas pembusukan dari dalam paru-paru atau efek dari kaku mayat (rigor mortis).
Meskipun bekerja dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan psikologis dan pemandangan yang tidak biasa, semangat untuk mengungkap kebenaran menjadi motivasi utama para ahli forensik.
"Kami ini sering disebut sebagai the voice of the voiceless atau penyambung lidah bagi mereka yang sudah tiada. Jika ditanya apakah ada rasa takut, tentu sebagai manusia biasa kadang ada perasaan tidak nyaman. Namun, rasa tanggung jawab untuk membantu pihak kepolisian menegakkan keadilan dan memberikan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan selalu berhasil mengalahkan rasa takut itu," tegasnya.
Sesi berbagi kisah (spill) pengalaman dokter forensik ini berhasil membuka mata publik secara luas. Tidak hanya memberikan edukasi yang meluruskan mitos di masyarakat, cerita ini juga menumbuhkan apresiasi dan rasa hormat yang mendalam terhadap dedikasi para tenaga medis forensik yang harus bekerja dalam diam dan menghadapi sisi tergelap manusia demi tegaknya sebuah keadilan.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar