SARIBERITA.ID Rangkaian aktivitas vulkanik yang terjadi belakangan ini, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, kembali menjadi alarm pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang tidak pernah benar-benar tidur.
Abu vulkanik yang dimuntahkan oleh Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9) malam tidak hanya berdampak pada wilayah sekitar, tetapi telah terbawa angin hingga menjangkau kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Banten, dan Jawa Barat.
Dampak dari sebaran abu tersebut bahkan merambah ke ruang udara, memaksa Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan sejumlah bandar udara lainnya untuk menghentikan operasional sementara guna menghindari bahaya bagi penerbangan.
"Situasi itu menunjukkan bahwa bencana seringkali tidak mengenal batas administratif. Abu tidak berhenti di garis kabupaten, kota, atau provinsi. Karena itu, penanganannya pun tidak boleh tersekat-sekat oleh batas kewenangan," tegas narator dalam siaran Editorial Metro TV.
Dalam kondisi seperti ini, otoritas terkait menekankan bahwa edukasi publik harus terus digemakan. Masyarakat harus memahami bahwa abu vulkanik berbeda dengan debu jalanan biasa. Abu ini mengandung partikel kaca silika mikroskopis yang sangat tajam dan gas pekat yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta memperburuk kondisi penderita asma atau penyakit komorbid lainnya.
Oleh sebab itu, penggunaan masker pelindung berstandar dan pembatasan aktivitas di luar ruangan merupakan langkah mutlak untuk melindungi diri. Sikap abai terhadap debu vulkanik dinilai hanya akan memicu krisis kesehatan di tengah kepanikan darurat bencana.
Lebih lanjut, siaran tersebut juga menyoroti tanggung jawab negara dalam perlindungan warga sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28G dan 28H UUD 1945 mengenai hak atas rasa aman dan lingkungan hidup yang sehat. Melindungi warga dari bencana merupakan kewajiban mutlak pemerintah pusat dan daerah yang harus berjalan dalam satu komando terpadu.
Saat ini, Indonesia juga tengah menghadapi rentetan aktivitas vulkanik dari sejumlah gunung berapi lainnya secara bersamaan, di antaranya Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Banyaknya peristiwa erupsi ini diharapkan menjadi momentum penting untuk terus-menerus memperkuat sistem mitigasi nasional. Sistem peringatan dini wajib menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah secara cepat dan akurat, serta fasilitas kesehatan harus bersiap menghadapi lonjakan pasien gangguan pernapasan.
"Bencana memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi korban dapat dikurangi, kerugian dapat ditekan, dan kepanikan dapat dicegah. Jadikan mitigasi bencana sebagai napas kehidupan sehari-hari, bukan sekadar proyek musiman saat musibah tiba," pungkas laporan tersebut.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar