Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Diguyur Hujan Usai Kemarau 79 Hari, Kualitas Udara Ketapang Membaik Meski Krisis Air Masih Membayangi


SARIBERITA.ID
— Setelah dilanda kemarau panjang hingga mencapai 79 hari, kualitas udara di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akhirnya mulai menunjukkan tren perbaikan. Perbaikan ini terjadi seiring turunnya hujan di beberapa titik wilayah, meski intensitas dan sebarannya dilaporkan belum merata.

Sisa-sisa dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terlihat sangat jelas. Hamparan lahan yang didominasi arang kehitaman serta pohon-pohon yang hangus terbakar menjadi saksi bisu ganasnya karhutla dalam beberapa pekan terakhir.

"Salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sini adalah kelalaian masyarakat yang membuang puntung rokok, aktivitas pembakaran lahan untuk membuka area perkebunan, serta sambaran bara api yang tertiup angin kencang dari lahan yang sebelumnya sudah terbakar," lapor Elvina Elizabeth Sihombing dari Ketapang.

Meski demikian, masuknya curah hujan dalam beberapa hari terakhir membawa angin segar bagi kondisi lingkungan. Skor kualitas udara di Ketapang kini membaik dan berada di angka 75 atau masuk ke dalam kategori "Sedang". Angka ini jauh lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya yang sempat menyentuh level membahayakan bagi kelompok rentan. Wilayah yang telah diguyur hujan antara lain meliputi Kecamatan Simpang Hulu, Simpang Dua, dan Tumbang Titi.

Kendati demikian, hujan belum menyentuh seluruh area di Ketapang. Sejumlah kecamatan tercatat telah memasuki hari ke-79 tanpa diguyur hujan sama sekali. Dampak kekeringan ekstrem ini sangat memukul tugas tim pemadam kebakaran di lapangan. Pasokan air dari parit-parit lahan gambut yang biasanya diandalkan petugas kini sudah surut dan mengering total. Akibatnya, personel gabungan terpaksa menguras tenaga ekstra untuk memanggul mesin pompa dan selang air seberat puluhan kilogram menuju titik koordinat api di pedalaman.

Kekeringan parah ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Sumber air tanah dan sumur warga dilaporkan telah surut drastis dan berubah rasa menjadi asin atau payau. Kondisi tersebut memaksa warga mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp80.000 per minggu hanya untuk membeli pasokan air galon guna memenuhi kebutuhan minum dan memasak sehari-hari.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰