Kondisi debit air di Bendung Katulampa mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
"Pada situasi yang normal, ketinggian debit air di Bendung Katulampa ini berada di kisaran 10 hingga 40 sentimeter. Namun sepanjang musim kemarau ini, angkanya mengalami penurunan yang cukup drastis," lapor Randi Alvaras dari Bendung Katulampa, Bogor.
Merujuk pada data dari petugas pemantau bendungan, TMA Bendung Katulampa selama musim kemarau ini berlangsung sangat fluktuatif, yakni merosot ke kisaran 0 hingga 10 sentimeter saja. Saking rendahnya permukaan air, bebatuan di aliran Sungai Ciliwung dapat disaksikan dengan mata telanjang. Momen surutnya sungai ini ternyata banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk turun ke dasar sungai, mencari ikan, dan memancing.
Di balik aktivitas warga tersebut, surutnya Bendung Katulampa membawa dampak serius terhadap penyediaan sumber daya air. Penyusutan ini menyebabkan minimnya pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat luas, sekaligus mengancam pasokan air untuk jalur irigasi di sektor pertanian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang, yakni sekitar 3 hingga 7 bulan. Puncak kemarau pun diprediksi baru akan terjadi pada bulan Oktober mendatang. Di kawasan Bogor sendiri, tingkat curah hujan dalam beberapa hari terakhir tergolong sangat rendah di kisaran 0 hingga 150 milimeter. Sempat turun hujan yang menaikkan debit air sesaat, namun tak lama permukaan air kembali surut secara drastis.
Sebagai langkah mitigasi, petugas Pos Pemantau Bendung Katulampa terus melakukan pengawasan intensif terhadap fluktuasi air. Petugas juga mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk mulai melakukan langkah penghematan air secara ketat, guna mengamankan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan irigasi pertanian ke depan.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar