Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Waspada Gempa Mesti Jadi Budaya: Mitigasi Harus Berkelanjutan, Bukan Reaksi Sesaat


SARIBERITA.ID
Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini kembali menjadi pengingat keras bahwa Indonesia berada di kawasan rentan bencana karena dilintasi oleh Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) serta pertemuan sejumlah lempeng tektonik. Bencana ini tidak boleh hanya dipandang selesai ketika masa tanggap darurat berakhir, melainkan harus menjadi momentum untuk mengevaluasi kesiapan masyarakat, kualitas infrastruktur, dan efektivitas mitigasi.

Pentingnya kesadaran ini dibahas secara mendalam dalam program Bedah Editorial Media Indonesia (MI) yang tayang di Metro TV pada Selasa, 18 Agustus 2026. Diskusi dengan tema "Waspada Gempa Mesti Jadi Budaya" ini dipandu oleh pembawa acara dan jurnalis Metro TV, Leona Samosir.

Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Dewan Redaksi Media Group, Elman Saragih, menyoroti fenomena di masyarakat Indonesia yang kerap dengan cepat melupakan mitigasi bencana setelah masa tanggap darurat usai.

"Kebiasaan menghadapi bencana itu sebetulnya ada, hanya sering terlupakan dan terabaikan. Begitu terjadi gempa di NTT, mungkin seminggu atau sebulan setelahnya semangat meningkatkan kewaspadaan itu tinggi di sekolah maupun rumah ibadah. Tapi secara perlahan-lahan ternyata hilang, itu yang menjadi soal besar," tegas Elman Saragih.

Elman menekankan bahwa kewaspadaan gempa secara mutlak harus dijadikan budaya. Masyarakat dituntut untuk terbiasa dan paham langkah-langkah keselamatan dasar saat gempa terjadi, seperti ke mana arah jalur evakuasi, di mana titik kumpul, serta bagaimana cara melindungi kelompok rentan, terutama di fasilitas publik seperti rumah sakit. Edukasi harus disampaikan secara berulang, berkelanjutan, dan tidak hanya sekadar seremonial.

Dalam membangun budaya tersebut, Elman menilai bahwa sekolah merupakan tempat yang sangat strategis.

"Sekolah itu mestinya harus memasukkan ini ke dalam kurikulum. Katakanlah sekali dalam seminggu ada pembelajaran dan ada latihan (drill) kegempaan. Kalau anak-anak sudah terbiasa, saat dewasa mereka akan meneruskannya. Jangan setelah tua baru diajarkan, itu susah," lanjut Elman.

Selain aspek sumber daya manusia, kesiapsiagaan infrastruktur juga menjadi perhatian penting. Meskipun banyak pihak yang enggan membangun bangunan tahan gempa karena faktor biaya yang dianggap lebih mahal, Elman mengingatkan bahwa biaya investasi untuk edukasi, simulasi, dan mitigasi bangunan sesungguhnya jauh lebih murah.

"Jauh lebih murah mitigasi seperti itu daripada merehabilitasi pasca-bencana. Rehabilitasi pasti jatuhnya mahal, belum lagi risiko nyawa yang melayang," tambahnya.

Dialog ini juga diwarnai dengan masukan dari masyarakat. Seorang warga asal Makassar, Sulawesi Selatan, Ibu Lia, melalui sambungan telepon menyampaikan pandangannya bahwa saat ini masyarakat masih banyak yang acuh tak acuh terhadap peringatan bencana. Saat ditanya mengenai penggunaan aplikasi peringatan dini dari BMKG di ponsel, Ibu Lia mengaku dirinya kesulitan karena masih gagap teknologi (gaptek).

Menanggapi kendala masyarakat seperti Ibu Lia, Elman Saragih menjelaskan bahwa keselamatan tidak harus selalu bergantung pada teknologi tinggi. Penanaman kearifan lokal (folklore) dan tuntunan sederhana dari pemerintah yang didukung oleh orang tua, guru, hingga tokoh agama, bisa menjadi metode mitigasi yang sangat efektif untuk membiasakan masyarakat siap siaga.

Menutup diskusi tersebut, Leona Samosir kembali menggarisbawahi poin utama dari tajuk rencana Media Indonesia bahwa antisipasi tidak boleh berhenti pada kepanikan.

[SB.103/Ris]

"Indonesia tidak mungkin mencegah gempa, tetapi risikonya dapat ditekan. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan sekadar reaksi sesaat ketika bencana terjadi," pungkas Leona Samosir.

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital