SARIBERITA.ID Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menyisakan duka mendalam dan kerusakan yang cukup masif, tak terkecuali di Kabupaten Ende. Hingga hari ketiga pascagempa, Basarnas mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ini mencapai 70 orang, sementara operasi telah memasuki tahap penyisiran akhir karena tidak ada lagi laporan warga yang hilang.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Edy Bramantio, menyampaikan rincian jumlah korban keseluruhan akibat guncangan dahsyat ini mencapai 202 jiwa. "Dari jumlah ini, totalnya 70 orang dinyatakan meninggal dunia, 132 lainnya mengalami luka-luka," ungkap Edy.
Dari total korban luka-luka tersebut, ia merinci bahwa sebanyak 40 orang mengalami luka berat, sedangkan 92 orang lainnya mengalami luka ringan. Walaupun pencarian difokuskan pada penyisiran, pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa tim gabungan tetap bersiaga di lokasi terdampak.
Sementara itu, dalam respons pemulihan infrastruktur, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memastikan pihaknya akan mengawal ketat penanganan pascagempa, terutama akses konektivitas antarwilayah. "Dari sisi infrastruktur kita juga harus memastikan agar konektivitas tidak terputus, jangan sampai ada daerah atau kawasan yang terisolir, kita harus dukung dengan alat-alat berat yang kita kerahkan semaksimal mungkin," tegas Menteri AHY.
Ia juga menyoroti pentingnya segera memulihkan fasilitas fundamental warga. "Kita juga memastikan agar infrastruktur dasar untuk air bersih, untuk listrik, dan yang dibutuhkan oleh masyarakat sehari-hari ini bisa segera dibenahi," tambahnya.
Di Kabupaten Ende sendiri, guncangan gempa ini meluluhlantakkan tidak hanya rumah-rumah warga, tetapi juga sarana publik dan rumah ibadah. Gereja Santa Maria Immakulata Ndona disebut sebagai salah satu bangunan dengan kerusakan paling parah akibat pergeseran struktur dan keretakan bangunan yang signifikan, hingga membuat kegiatan keagamaan harus dipindahkan ke fasilitas darurat.
Kapolres Ende, AKBP I Gede Ngurah Joni Mahardika (diidentifikasi dalam liputan sapaan Pak Yudi), meninjau langsung kondisi pengungsi di Desa Welamosa, Kecamatan Wewaria. Menurutnya, terdapat empat kecamatan di Kabupaten Ende yang terdampak cukup parah akibat guncangan ini, yakni Kecamatan Ndona, Wewaria, Maurole, dan Maukaro.
"Walaupun jarak dari pusat gempa lebih kurang 100 kilometer dari Nagekeo, tapi berdampak juga kepada masyarakat yang ada di Kabupaten Ende," ujar Kapolres Yudi. Ia menyebutkan, hingga hari kelima setelah kejadian, pihak kepolisian membagikan bantuan prioritas dari Kapolda NTT berupa 200 paket sembako di Kecamatan Wewaria dan Maurole.
Lebih lanjut, ia menekankan urgensi pengadaan tempat berlindung bagi warga karena keterbatasan peralatan. "Kita fokuskan untuk bantuan makanan dan terpal ya, karena sampai sekarang tenda kita baru dapatkan tiga set saja... jadi sementara ini masyarakat yang terdampak itu menggunakan terpal secara mandiri," tuturnya.
Selain logistik, aparat kepolisian yang menerjunkan sekitar 150 personel gabungan—termasuk anggota Brimob—turut melakukan pembukaan akses jalan yang sempat tertutup longsor serta memberikan trauma healing bagi korban terdampak gempa agar mereka dapat merasa aman secara psikologis.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar